Beberapa tahun yang lalu saya memulai mempromosikan jasa studio kreatif saya melalui Instagram. ‘Kehilangan’ beberapa kali akun Instagram usaha saya, tidaklah mudah bagi saya dan tim pada waktu itu. Saya pribadi tidak ingat kapan tepatnya saya memulai menggunakan Instagram. Akan tetapi yang saya tahu pasti adalah kami (saya dan tim) menggunakan Instagram sebelum terjadinya akuisisi Instagram oleh Facebook (2012). Pada awalnya penggunaan Instagram saya hanya sebatas tentang ‘aku’. Perlahan saya dan tim menemukan ide untuk Instagram tersebut digunakan sebagai ajang/tool promosi jasa studio yang kami dirikan (akan tetapi saya tidak mengatakan bahwa kami adalah pengguna/pelopor dari gerakan ini).
Kalau kita berbicara ‘kiblat’ penggunaan Instagram kini, sangat jauh berbeda. Kini banyak akun Instagram yang digunakan untuk mempromosikan jasa atau produk (dalam bertransaksi bisnis). Dan pergeseran itu sangat cepat, ‘hanya’ dalam 8 tahun usia Instagram (2010–2018). Pada awal kami menggunakan Instagram sebagai salah satu alat marketing kami, masih tidak banyak yang menggunakan media sosial ini sebagai alat marketing. Kami mencatat hanya dalam waktu 1–2 tahun, fungsi sebagai alat marketing usaha semakin meluas bahkan sangat cepat pertumbuhannya.
Kalau kita memutar roda waktu ke belakang maka satu-satunya alat digital marketing hanya website. Akan tetapi kini berkembangnya media sosial, website sendiri sudah bukan menjadi satu-satunya alat digital marketing tapi masih tetap dibutuhkan (dalam tulisan sendiri kami akan memberikan bedahannya). Menurut beberapa data yang kami dapatkan dari dalam negeri (seperti Kompas, Liputan6 dan lainnya) maupun luar negeri, pengguna akun aktif mencapai 1 milyar setiap bulan. Oleh Instagram, data ini didapatkan dari akun yang ‘bergerak’. Bergerak yang dimaksudkan adalah dari masuk–keluarnya akun, mungunggah, menyukai, mengikuti serta mengomentari foto/gambar akun lainnya. Dan 50% dari 1 milyar akun Instagram tersebut (500 Juta pengguna), aktif setiap harinya. Itu sebabnya dalam buku panduan (elektronik) yang kami terbitkan bagi calon klien kami, sebagai latar belakang bagaimana pentingnya membangun market lewat Instagram. Kini, ada lebih dari 8 juta akun bisnis. Data yang kami dapatkan juga bahwa pertumbuhan pengikut sebuah brand meningkat dari 6% menjadi 8% per-bulannya. Mari kita hitung 6% dikalikan 1 miliar akun sama dengan 60–80 juta akun (pertumbuhan pengikut sebuah brand secara keseluruhan). Luar biasa pengaruhnya, bukan?
Studio kami sendiri memiliki target pengikut (follower) maupun penyuka (liker) bagi setiap klien kami (target proses dan bukan target hasil). Maksudnya adalah kami terus bergerak (bukti alat bacanya adalah likers/penyuka dan followers/pengikut). Akan tetapi apabila hasil perjalanan kami ‘masih kurang’ maka kami akan terus bergerak sehingga hasil followers/pengikut dan likers/penyuka masih sedikit, itu bukan tolak ukur mutlak. Supaya usaha klien (brand) yang sedang kami pegang dapat terus dikenal oleh target pasar.
Perkembangan media sosial menjadi salah satu ‘perbedaan besar’ dari pergerakan marketing sebuah perusahaan. Itu sebabnya, ciri khas dari sebuah perusahaan modern adalah penggunaan Instagram sebagai salah satu alat utama marketing.
