Pertanggungjawaban Tone

Puluhan atau bahkan ratusan atau bisa saja lebih jenis tone yang telah diketemukan. Akan tetapi, fakta yang saya temukan di lapangan, hanya sedikit fotografer yang dapat menjelaskan ketika ditanyakan mengenai tone. Jawaban yang paling sering saya temukan ketika bertanya kepada para fotografer tentang makna tone adalah kesukaan. Karena si fotografer suka dengan salah satu tone, maka dibuatlah tone tersebut. Latar belakang ini memang tidak salah, karena tolak ukur penggunaan tone dalam dunia seni (khususnya desain dan fotografi fungsional) tidak ada salah atau benar, yang menjadi tolak ukur adalah cocok apa tidak suatu desain atau fotografi fungsional (termasuk kecocokan rasa dalam seni).

Mengedit atau ‘mengubah’ tone sebenarnya bukanlah hal yang mudah dan dangkal, karena proses itu melibatkan ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh ilmu yang paling sering digunakan dalam ‘membedah’ makna tone adalah psikologi (logos = ilmu, psyche = jiwa). Hal ini bisa terlihat pada orang umum (masyarakat diluar seniman) ketika mereka memberi tanggapan, ”Wow, foto ini dramatis ya?” atau contoh-contoh tanggapan lainnya. Itu sebabnya, tidak aneh rasanya kalau salah seorang teman baik saya sekarang mengambil S2 (Strata 2) didalam bidang art therapy. Terapi yang menggunakan bidang seni (terutama visual) dalam mendidik anak-anak generasi yang akan datang dan juga dapat digunakan dalam proses penyembuhan (penyakit, termasuk gangguan kejiwaan). Unsur yang digunakan adalah unsur dalam dunia seni (titik, garis, bidang, ruang, warna dan lain sebagainya).

Masih ada lagi ‘pisau bedah’ tone atau ilmu pengetahuan lainnya yang dapat membuat tone itu bermakna. Seperti ilmu geografi (ilmu bumi), semiotika, hermeunetik dan lain sebagainya. Jadi, seorang fotografer sudah seharusnya dapat mempertanggungjawabkan setiap penggunaan tone dari sudut ilmu pengetahuan.

Maju fotografi Indonesia.
Maju Indonesia.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *