Jakarta adalah kota kelahiranku. Tahun 1996 aku berangkat menuju sebuah tempat yang indah bernama Bali untuk sebuah tujuan yakni belajar. Tidak ada pikiran lain selain menuntut ilmu di tanah 1001 pura. Diterima di Universitas Udayana jurusan Seni Rupa dan Desain melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah ucapan syukur yang tak terkira dari keluargaku.
Satu hari satu malam lamanya dari tanah kelahiranku menuju kota Denpasar (Terminal Ubung). Menyeberang Selat Bali menggunakan kapal Feri Ketapang – Gilimanuk menjadi pengalaman pertama saya pada saat itu. Saat menapak di Pelabuhan Gilimanuk, saya langsung dihadapkan dengan kemegahan Candi Bentar yang didominasi oleh warna dari batu bata. Perasaan takjub dan penasaran untuk mengetahui lebih dalam tentang tanah 1001 pura ini tidak terhenti sampai di situ saja. Barisan rumah penduduk serta Pura yang memiliki arsitektur tradisional Bali yang sangat kental adalah sebuah mahakarya yang patut dipelajari dan dilestarikan. Lebih jauh lagi ku melangkahkan kaki, melihat barisan pria dan wanita menggunakan pakaian adat Bali sambil melantunkan musik tradisional Bali adalah fenomena yang tak pernah akan kulupakan.

Foto oleh Rio Dwisandy Branding Studio
Daerah Gilimanuk (Kabupaten Negara) adalah salah satu daerah ‘pertama’ yang saya sebut sebagai ‘Gerbang Identitas Budaya’ (apabila kita menggunakan jalur darat dari Pulau Jawa). Seringkali kita membahas lunturnya budaya ‘hanya’ berasal dari media seperti televisi, radio atau media elektronik lainnya. Kita lupa bahwa media itu ada 2 jenis yakni fisik (offline atau dikenal dengan hand to hand / langsung) dan non fisik (digital media/soft copy). Kedua jenis media inilah yang menjadi jalan masuk budaya dari luar. Dan kedua pintu ini juga menjadi alasan sangat penting bagi lunturnya budaya. Akan tetapi apabila kita telaah lebih dalam lagi bahwa ‘pintu terakhir’ lunturnya budaya adalah terletak pada manusianya sendiri. Apabila manusia yang memiliki karakter membangun tempat dia pijak itu kuat, maka daerah sekelilingnya juga akan kuat adanya dalam melestarikan budaya. Akan tetapi permasalahan yang terbesar adalah manusia pada dasarnya dikuasai oleh hawa nafsu, sehingga fokus hidup kepada kenikmatan diri sendiri adalah hal yang utama. Ciri pribadi yang fokusnya kepada kenikmatan diri sendiri ada bermacam-macam, akan tetapi sumber utamanya ada pada pikiran dan tindakan. Tanpa harus menghakimi akan tetapi silahkan kita (saya dan anda) introspeksi diri dengan baik dan detail, berapa nilai persentase kita memikirkan lingkungan kita dan daerah asal kita dibandingkan diri sendiri.

Ilustrasi oleh Rio Dwisandy Branding Studio
Gerbang Identitas Budaya yang secara fisik terlihat selain Gilimanuk ada Padang Bai di Kabupaten Karangasem, Bandara Ngurah Rai (Kabupaten Badung – Kuta) dan ‘pelabuhan bisnis’ Benoa.
Bulan Desember 2018 saya mencoba mencari data (kembali) mengenai budaya ‘sepanjang jalan dari sebuah Gerbang Identitas Budaya’ (kurang lebih radius 20 – 40 Km dari pelabuhan Gilimanuk ke arah 2 Kota cabang yakni daerah Singajara dan daerah Negara – Tabanan) lalu saya menganalisa (secara dasar), apakah terjadi perubahan budaya pada ‘Gerbang Identitas Budaya’ Bali? Masihkah anda ‘merasakan kentalnya’ budaya Bali disana? Itu pertanyaan yang harus dijawab oleh orang Bali sendiri. Memang idealnya ‘orang keturunan asli Bali’ sendirilah yang mengetahui akan hal ini. Akan tetapi sebagai pribadi yang saling melengkapi satu dengan yang lain, maka marilah kita (orang keturunan Bali asli dan orang dari luar Bali) bersama-sama menjaga ‘Gerbang Identitas Budaya’ agar budaya yang merupakan warisan nenek moyang kita tidak punah.
* Perlu digaris bawahi. Tulisan ini bukan didasari oleh pikiran dan hati yang negatif. Tulisan ini berfokus hanya pada satu pesan : menjaga salah satu budaya Indonesia yakni Bali.
