TownLife2

Mengapa Infrastruktur Sangat Penting Bagi Sebuah Negara

Kepemimpinan adalah tentang membuat orang lain lebih baik sebagai hasil dari kehadiran Anda dan memastikan bahwa dampaknya bertahan lama selama Anda tidak ada.
– Sheryl Sanberg, COO Facebook

Indonesia terlalu lama hidup dalam buaian semu. 32 tahun dibuai bukanlah waktu yang pendek untuk pembentukan karakter bangsa. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik butuh kerja keras yang sangat luar biasa. Tapi untuk menjadi pribadi yang buruk, sangatlah mudah. Ibarat seseorang menaiki sebuah bukit yang tinggi, untuk mencapai puncak sangat berat, tapi untuk kita turun dari bukit sangat mudah.

Minggu, 23 Desember 2018 adalah tanggal di mana saya bisa menjadi (salah satu) saksi hidup dari hasil pembangunan jalan Tol Trans-Jawa. Berangkat dari Kota Malang menuju Surabaya lalu saya teruskan menuju Jakarta, lalu kembali menuju Denpasar-Bali. Ada beberapa infrastruktur yang belum selesai pada waktu itu. Akan tetapi struktur jalan tol sebagai alat utama telah bisa digunakan.

Perkembangan suatu negara sepenuhnya tergantung pada ketersediaan fasilitas infrastrukturnya. Infrastruktur memainkan peran penting dalam peningkatan standar hidup negara. Ini juga memainkan peran penting dalam berkontribusi pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Akan tetapi di Indonesia sendiri saat ini masih memiliki kendala yang sangat penting dan mendasar sekali yakni karakter pribadi setiap warganegara (lihat pada alinea awal). Saya berharap sedikit tulisan dibawah ini dapat membukakan wawasan masyarakat mengenai pentingnya infrastruktur bagi semua bangsa.

Tol Trans-Jawa, 2018

Infrastruktur mengacu pada fasilitas, kegiatan dan layanan yang mendukung operasi dan pengembangan sektor ekonomi lainnya. Fasilitas, kegiatan, dan layanan ini membantu meningkatkan produktivitas ekonomi secara keseluruhan. Infrastruktur juga memainkan peran penting dalam memfasilitasi kelancaran semua sektor ekonomi.

Terdapat dua jenis infrastruktur, yaitu :

  • Infrastruktur sosial, kebutuhan dasar fisik pengorganisasian sistem struktur untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Dengan kata sederhana, infrastruktur sosial merujuk layanan dasar masyarakat seperti pendidikan dan pelatihan, kesehatan dan sanitasi, air minum, perumahan, saluran air kotor dan lain sebagainya. Infrastruktur sosial ini secara tidak langsung mendukung sistem ekonomi (mikro) yang juga berdampak kepada ekonomi makro. Infrastruktur sosial secara tidak langsung meningkatkan produktivitas dan ekonomi melihat dampaknya setelah beberapa waktu. Infrastruktur sosial mengarah pada pertumbuhan dalam jangka panjang.
  • Infrastruktur fisik, infrastruktur yang secara langsung adalah infrastruktur yang berkaitan dengan kebutuhan sektor produksi seperti pertanian, industri, perdagangan dan lain sebagainya. Dengan kata sederhana, infrastruktur fisik secara langsung mendukung produksi. Infrastruktur ini juga secara langsung mendukung proses produksi dan distribusi dalam perekonomian. Sebagai contohnya adalah energi, irigasi, transportasi, telekomunikasi, perbankan, asuransi, teknologi, keuangan dan lain-lainnya. Infrastruktur fisik, bagaimana pun, secara langsung meningkatkan produktivitas dan ekonomi segera melihat dampaknya. infrastruktur juga mengarah pada pertumbuhan yang cepat (jangka pendek).

Mengapa Infrastruktur Sangat Diperlukan?

  • Kelancaran fungsi ekonomi. Fasilitas infrastruktur sangat diperlukan dan vital untuk kelancaran fungsi ekonomi. Infrastruktur seperti roda pembangunan yang tanpanya ekonomi tidak akan dapat berfungsi dengan baik.
  • Pengembangan pertanian. Perkembangan pertanian, sampai taraf tertentu, tergantung pada perluasan dan pengembangan irigasi, kredit, transportasi, listrik, pemasaran, pelatihan dan pendidikan yang memadai. Ini juga tergantung pada peningkatan penelitian dan pengembangan dan fasilitas lainnya.
  • Pengembangan industri. Bidang industri tidak hanya membutuhkan mesin dan peralatan tetapi juga membutuhkan energi, tenaga terampil, manajemen, perbankan, asuransi, dan layanan transportasi sangat penting. Kegiatan dan fasilitas ini akan secara langsung mengarah pada pengembangan sektor industri ekonomi.
  • Promosi investasi. Pembangunan infrastruktur jelas merupakan prasyarat yang mendapat peningkatan investasi ekonomi. Area-area dengan basis infrastruktur yang baik dapat berhasil menarik lebih banyak modal untuk investasi.
  • Peningkatan produktivitas. Pengembangan infrastruktur seperti fasilitas transportasi dan pendidikan meningkatkan produktivitas. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga penting dalam meningkatkan produktivitas ekonomi. Selain itu, penelitian dan pengembangan juga memainkan peran penting dalam peningkatan ekonomi.
  • Generasi karyawan. Infrastruktur memainkan peran penting dalam menghasilkan peluang kerja. Infrastruktur ini meningkatkan mobilitas, efisiensi dan produktivitas tenaga kerja. Selain itu, investasi yang lebih besar, pengembangan industri dan pertanian menciptakan lebih banyak peluang kerja.

Beberapa signifikansi sekunder tetapi penting dari infrastruktur ekonomi adalah sebagai berikut.

  • Pengembangan daerah terbelakang. Pengembangan daerah terbelakang dan penghapusan ketidakseimbangan regional merupakan kontribusi signifikan lain dari fasilitas infrastruktur. Kurangnya fasilitas infrastruktur di daerah terbelakang akan bertindak sebagai kendala pada pengembangan daerah tersebut.
  • Perubahan sosial. Fasilitas infrastruktur juga akan bertindak sebagai instrumen perubahan sosial. Pengembangan industri, fasilitas transportasi dan pendidikan akan mengubah pandangan masyarakat. Terlepas dari ini, bahkan ilmu pengetahuan, teknologi dan pertumbuhan kota-kota akan menyebabkan perubahan pandangan ekonomi.
  • Pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto). Ada hubungan yang sangat erat antara pengeluaran untuk infrastruktur dan pertumbuhan PDB. Studi mengungkapkan bahwa pertumbuhan 1% dalam stok infrastruktur sering dikaitkan dengan pertumbuhan 1% dalam PDB per kapita.
  • Pengembangan semua putaran / Pengembangan keseluruhan. Pembangunan infrastruktur penting tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi tetapi juga untuk pembangunan secara keseluruhan. Perkembangan ekonomi secara menyeluruh pada suatu sangat penting. Fasilitas infrastruktur juga diperlukan untuk inovasi teknologi. Seiring dengan inovasi teknologi, fasilitas infrastruktur ekonomi juga penting untuk memberantas kemiskinan dan meningkatkan globalisasi.

 

Infrastruktur ekonomi adalah pusat saraf dari sistem ekonomi. Ini memainkan peran penting dalam pengembangan tidak hanya ekonomi tetapi juga peradaban. Ini adalah layanan utilitas publik yang memberikan utilitas tempat dan waktu untuk barang dan jasa. Infrastruktur menghubungkan produksi, pusat distribusi dan konsumen akhir juga. Oleh karena itu, infrastruktur menyatukan unsur-unsur sistem ekonomi. Pengetahuan dasar tentang fungsi infrastuktur ini haruslah diketahui secara luas oleh warga negara (di setiap negara) terutama Indonesia, agar tongkat kerja dari sebuah pemerintahan dapat berjalan dengan baik sehingga bisa menghasilkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Tiga Pendekatan Finansial

Membangun sebuah usaha memiliki banyak liku-likunya. Tidaklah selalu mulus adanya. Meskipun itu telah kita jalani sekian lamanya. Pembelajaran demi pembelajaran kita harus ikuti. Ketika kita tinggalkan proses pembelajaran itu, maka konsekuensinya akan sulit bagi kita pelaku usaha untuk merebut market baru yang serba dinamis. Salah satu yang kita bisa pelajari adalah cara pendekatan.

Di Indonesia sendiri (saya sendiri belum banyak menyelidiki di luar negeri atau kebiasaan ‘orang luar’) berlaku 3 pendekatan (strategi) finansial.

Pertama, Pendekatan Profesional (Murni).

Dimana pendekatan ini selalu memperhatikan etika professional (yang bersifat tegas dan jelas) dalam menghargai orang lain, itulah kekuatan dari pendekatan ini. Akan tetapi bagi budaya di Indonesia, hal ini dianggap terlalu kaku sehingga beberapa orang ‘sedikit’ takut atau gentar dalam menghadapi pribadi atau perusahaan yang melakukan pendekatan ini. Karena masyarakat Indonesia sendiri terlalu kuat dengan sifat kekeluargaannya (di poin kedua yang akan kita bahas). Sifat kekeluargaan yang mungkin 180 derajat bertentangan dengan pendekatan ini.

Kedua, Pendekatan Kekeluargaan.

Pendekatan ini dimana prosedur yang jelas dan tegas dapat ‘disingkirkan’ (baik itu sedikit atau keseluruhannya). Dari cara negosiasi, besaran harga dan lainnya. Sebenarnya pendekatan ini sangat baik bagi perusahaan kecil atau bagi yang memulai membuka usaha. Akan tetapi di Indonesia sendiri nilai uang menjadi hal yang sensitif, sehingga meskipun perusahaan itu ‘sudah besar’ akan tetapi tetap menggunakan pendekatan ini. Inilah sebenarnya titik dimana kita sebagai pekerja atau ‘bawahan’ dapat ‘melihat’ seperti apa gambaran perusahaan ini ditentukan oleh keputusan para pemimpinnya. Sebenarnya kalau kita memikirkan prinsip perkembangan sebuah usaha, maka semakin besar perusahaan itu semakin besar pula tuntutannya. Oleh sebagian perusahaan ‘ditentang’ dengan cara makin berkembang usaha tersebut justru ‘beban tanggungjawab’ kepada seorang pekerja ‘ditambah’ dengan dalih pekerja tersebut dapat lebih maksimal (karena pekerja tersebut ‘belum maksimal’). Berbeda dengan beberapa teman-teman saya yang berasal dari negara-negara berkembang lainnya seperti Amerika, Negara-negara di Eropa, Autralia, Jepang dan lainnya. Makin perusahaan itu berkembang ‘penambahan pekerja’ memang dilatarbelakangi oleh hal logis (dari sisi kuantitas beban tanggungjawab). Akan tetapi setiap pekerja di bidangnya masing-masing dituntut semakin berkembang atau yang artinya satu orang pekerja semakin lama semakin mendalami apa yang menjadi tanggungjawab yang diberikan kepadanya.

Ketiga, Pendekatan Menggabungkan Profesional dengan Pendekatan Kekeluargaan.

Pendekatan ini yang sekarang digunakan bagi pengusaha-pengusaha dari beberapa ‘negara luar’ yang membangun bisnisnya di Indonesia. Mereka tetap menghargai orang lain tapi mereka mau menjadi ‘keluarga’ bagi para pekerja. Itu sebabnya banyak para pekerja Indonesia yang nyaman akan situasi ini. Banyak kaum kapitalis di Indonesia sendiri yang menerapkan pendekatan kekeluargaan baik ketika awal perintisan maupun sampai saat mereka di puncak. Akan tetapi ‘lemah’nya kaum ‘bawah adalah ‘tetap’ mau diberlakukan hal itu. Ini biasanya karena mereka masih ada hubungan daging (saudara). Meski pemerintah sekarang telah ‘membuka’ usaha dan bahkan mendorong rakyat untuk mandiri. Ini kebanyakan menyangkut mental dan pengetahuan yang tidak bisa dipaksakan.

Semoga tulisan ini ‘sedikit’ menambah pengetahuan teman-teman dalam bertindak membangun usaha di Indonesia ataupun usaha yang baru.

Favorite Meat Processing

When meat gives you inspiration.

Favorite adalah sebuah merek produk daging olahan yang diproduksi oleh TITILESTARI pada 2014. Merek ini mengeluarkan berbagai macam produk olahan daging seperti sosis, daging asap, abon, dan bakso. Favorite menyediakan daging olahan berbahan dasar ayam, sapi, udang dan ikan yang dipadukan dengan rempah-rempah asli Indonesia dan wilayah Asia lainnya. Kami menangani promosi dan pembuatan alat pemasaran untuk perusahaan ini sejak 2016 sampai tulisan ini selesai dibuat.

 

 

GerbangIdentitasBudaya

Gerbang Identitas Budaya

Jakarta adalah kota kelahiranku. Tahun 1996 aku berangkat menuju sebuah tempat yang indah bernama Bali untuk sebuah tujuan yakni belajar. Tidak ada pikiran lain selain menuntut ilmu di tanah 1001 pura. Diterima di Universitas Udayana jurusan Seni Rupa dan Desain melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah ucapan syukur yang tak terkira dari keluargaku.

Satu hari satu malam lamanya dari tanah kelahiranku menuju kota Denpasar (Terminal Ubung). Menyeberang Selat Bali menggunakan kapal Feri Ketapang – Gilimanuk menjadi pengalaman pertama saya pada saat itu. Saat menapak di Pelabuhan Gilimanuk, saya langsung dihadapkan dengan kemegahan Candi Bentar yang didominasi oleh warna dari batu bata. Perasaan takjub dan penasaran untuk mengetahui lebih dalam tentang tanah 1001 pura ini tidak terhenti sampai di situ saja. Barisan rumah penduduk serta Pura yang memiliki arsitektur tradisional Bali yang sangat kental adalah sebuah mahakarya yang patut dipelajari dan dilestarikan. Lebih jauh lagi ku melangkahkan kaki, melihat barisan pria dan wanita menggunakan pakaian adat Bali sambil melantunkan musik tradisional Bali adalah fenomena yang tak pernah akan kulupakan.

Balinese women with traditional dress, Bali Arts Festival

Foto oleh Rio Dwisandy Branding Studio

 

Daerah Gilimanuk (Kabupaten Negara) adalah salah satu daerah ‘pertama’ yang saya sebut sebagai ‘Gerbang Identitas Budaya’ (apabila kita menggunakan jalur darat dari Pulau Jawa). Seringkali kita membahas lunturnya budaya ‘hanya’ berasal dari media seperti televisi, radio atau media elektronik lainnya. Kita lupa bahwa media itu ada 2 jenis yakni fisik (offline atau dikenal dengan hand to hand / langsung) dan non fisik (digital media/soft copy). Kedua jenis media inilah yang menjadi jalan masuk budaya dari luar. Dan kedua pintu ini juga menjadi alasan sangat penting bagi lunturnya budaya. Akan tetapi apabila kita telaah lebih dalam lagi bahwa ‘pintu terakhir’ lunturnya budaya adalah terletak pada manusianya sendiri. Apabila manusia yang memiliki karakter membangun tempat dia pijak itu kuat, maka daerah sekelilingnya juga akan kuat adanya dalam melestarikan budaya. Akan tetapi permasalahan yang terbesar adalah manusia pada dasarnya dikuasai oleh hawa nafsu, sehingga fokus hidup kepada kenikmatan diri sendiri adalah hal yang utama. Ciri pribadi yang fokusnya kepada kenikmatan diri sendiri ada bermacam-macam, akan tetapi sumber utamanya ada pada pikiran dan tindakan. Tanpa harus menghakimi akan tetapi silahkan kita (saya dan anda) introspeksi diri dengan baik dan detail, berapa nilai persentase kita memikirkan lingkungan kita dan daerah asal kita dibandingkan diri sendiri.

Ilustrasi oleh Rio Dwisandy Branding Studio

 

Gerbang Identitas Budaya yang secara fisik terlihat selain Gilimanuk ada Padang Bai di Kabupaten Karangasem, Bandara Ngurah Rai (Kabupaten Badung – Kuta) dan ‘pelabuhan bisnis’ Benoa.

Bulan Desember 2018 saya mencoba mencari data (kembali) mengenai budaya ‘sepanjang jalan dari sebuah Gerbang Identitas Budaya’ (kurang lebih radius 20 – 40 Km dari pelabuhan Gilimanuk ke arah 2 Kota cabang yakni daerah Singajara dan daerah Negara – Tabanan) lalu saya menganalisa (secara dasar), apakah terjadi perubahan budaya pada ‘Gerbang Identitas Budaya’ Bali? Masihkah anda ‘merasakan kentalnya’ budaya Bali disana? Itu pertanyaan yang harus dijawab oleh orang Bali sendiri. Memang idealnya ‘orang keturunan asli Bali’ sendirilah yang mengetahui akan hal ini. Akan tetapi sebagai pribadi yang saling melengkapi satu dengan yang lain, maka marilah kita (orang keturunan Bali asli dan orang dari luar Bali) bersama-sama menjaga ‘Gerbang Identitas Budaya’ agar budaya yang merupakan warisan nenek moyang kita tidak punah.

* Perlu digaris bawahi. Tulisan ini bukan didasari oleh pikiran dan hati yang negatif. Tulisan ini berfokus hanya pada satu pesan : menjaga salah satu budaya Indonesia yakni Bali.