Membangun sebuah usaha memiliki banyak liku-likunya. Tidaklah selalu mulus adanya. Meskipun itu telah kita jalani sekian lamanya. Pembelajaran demi pembelajaran kita harus ikuti. Ketika kita tinggalkan proses pembelajaran itu, maka konsekuensinya akan sulit bagi kita pelaku usaha untuk merebut market baru yang serba dinamis. Salah satu yang kita bisa pelajari adalah cara pendekatan.
Di Indonesia sendiri (saya sendiri belum banyak menyelidiki di luar negeri atau kebiasaan ‘orang luar’) berlaku 3 pendekatan (strategi) finansial.
Pertama, Pendekatan Profesional (Murni).
Dimana pendekatan ini selalu memperhatikan etika professional (yang bersifat tegas dan jelas) dalam menghargai orang lain, itulah kekuatan dari pendekatan ini. Akan tetapi bagi budaya di Indonesia, hal ini dianggap terlalu kaku sehingga beberapa orang ‘sedikit’ takut atau gentar dalam menghadapi pribadi atau perusahaan yang melakukan pendekatan ini. Karena masyarakat Indonesia sendiri terlalu kuat dengan sifat kekeluargaannya (di poin kedua yang akan kita bahas). Sifat kekeluargaan yang mungkin 180 derajat bertentangan dengan pendekatan ini.
Kedua, Pendekatan Kekeluargaan.
Pendekatan ini dimana prosedur yang jelas dan tegas dapat ‘disingkirkan’ (baik itu sedikit atau keseluruhannya). Dari cara negosiasi, besaran harga dan lainnya. Sebenarnya pendekatan ini sangat baik bagi perusahaan kecil atau bagi yang memulai membuka usaha. Akan tetapi di Indonesia sendiri nilai uang menjadi hal yang sensitif, sehingga meskipun perusahaan itu ‘sudah besar’ akan tetapi tetap menggunakan pendekatan ini. Inilah sebenarnya titik dimana kita sebagai pekerja atau ‘bawahan’ dapat ‘melihat’ seperti apa gambaran perusahaan ini ditentukan oleh keputusan para pemimpinnya. Sebenarnya kalau kita memikirkan prinsip perkembangan sebuah usaha, maka semakin besar perusahaan itu semakin besar pula tuntutannya. Oleh sebagian perusahaan ‘ditentang’ dengan cara makin berkembang usaha tersebut justru ‘beban tanggungjawab’ kepada seorang pekerja ‘ditambah’ dengan dalih pekerja tersebut dapat lebih maksimal (karena pekerja tersebut ‘belum maksimal’). Berbeda dengan beberapa teman-teman saya yang berasal dari negara-negara berkembang lainnya seperti Amerika, Negara-negara di Eropa, Autralia, Jepang dan lainnya. Makin perusahaan itu berkembang ‘penambahan pekerja’ memang dilatarbelakangi oleh hal logis (dari sisi kuantitas beban tanggungjawab). Akan tetapi setiap pekerja di bidangnya masing-masing dituntut semakin berkembang atau yang artinya satu orang pekerja semakin lama semakin mendalami apa yang menjadi tanggungjawab yang diberikan kepadanya.
Ketiga, Pendekatan Menggabungkan Profesional dengan Pendekatan Kekeluargaan.
Pendekatan ini yang sekarang digunakan bagi pengusaha-pengusaha dari beberapa ‘negara luar’ yang membangun bisnisnya di Indonesia. Mereka tetap menghargai orang lain tapi mereka mau menjadi ‘keluarga’ bagi para pekerja. Itu sebabnya banyak para pekerja Indonesia yang nyaman akan situasi ini. Banyak kaum kapitalis di Indonesia sendiri yang menerapkan pendekatan kekeluargaan baik ketika awal perintisan maupun sampai saat mereka di puncak. Akan tetapi ‘lemah’nya kaum ‘bawah adalah ‘tetap’ mau diberlakukan hal itu. Ini biasanya karena mereka masih ada hubungan daging (saudara). Meski pemerintah sekarang telah ‘membuka’ usaha dan bahkan mendorong rakyat untuk mandiri. Ini kebanyakan menyangkut mental dan pengetahuan yang tidak bisa dipaksakan.
Semoga tulisan ini ‘sedikit’ menambah pengetahuan teman-teman dalam bertindak membangun usaha di Indonesia ataupun usaha yang baru.