Cahaya pagi menyapaku. Menghentikan lelapnya tidurku.
Aku duduk sejenak untuk mengalirkan darah ke kepalaku. Lalu kuucapkan syukur kepadaNya atas hidup yang telah diberikan. Perlahan aku mengambil telepon genggamku dan mengaktifkannya. Tidak berselang lama, bunyi-bunyi pemberitahuan dari telepon genggamku datang silih berganti. Satu persatu pemberitahuan itu kulihat. Pemberitahuan yang berasal dari beberapa media sosial yang telah kuikuti. Akan tetapi entah mengapa pikiranku terbawa oleh satu pemberitahuan. Pemberitahuan tentang tawaran di media sosial Instagram untuk membeli pengikut (followers) dan penyuka (likers). Pikiran itu membawaku lebih dalam lagi untuk bertindak mengumpulkan data lalu menganalisanya. Pada akhirnya dalam pikiranku bertanya, ”Apakah sebenarnya fungsi saya memiliki media sosial dalam usahaku kini? Sebagai media marketing atau memberitahukan pasar tentang jasa atau produkku? Atau?”
Perlahan-lahan kulangkahkan kaki untuk mengumpulkan literatur untukku menjawabnya. Dan perlahan-lahan juga di pikiranku menjawab bahwa ada sebagian orang atau perusahaan yang berlomba memiliki begitu banyak pengikut (followers) dan penyuka (likers) untuk ‘dijual’ (dalam bentuk yang berbeda sebagai pengiklan sebuah produk atau menjual kembali para pengikut dan penyuka mereka kepada akun lainnya). Apa pun tujuannya itu, bagiku sah-sah saja.
Ketika kami menawarkan proposal jasa social media marketing ke beberapa perusahaan, seringkali kami menemukan pertanyaan mengapa pengikut/follower dan penyuka/likers anda tidak banyak? Padahal anda adalah perusahaan yang concern akan hal ini?
Dengan perlahan kami menjawab, kami memiliki tapak tujuan yang berbeda dengan beberapa orang atau perusahaan yang berlomba-lomba untuk memperbanyak pengikut dan penyuka. Tapak tujuan kami dalam fungsi media sosial marketing/branding adalah sebagai ruang portofolio yang akan dilihat oleh para calon pengguna usaha kami. Jadi kami tidak mencari atau mengumpulkan pengikut dan penyuka sebanyak-banyaknya. Peran media sosial ini dapat ‘sedikit’ menggantikan peran serta website yang dahulu memiliki status ‘raja’ atau ’satu-satunya’ alat digital marketing selain surat elektronik (e-mail). Memang kelebihan dan kekurangan masing-masing alat marketing tetap ada, akan tetapi semuanya itu dapat digunakan sebagai wujud sebuah usaha itu tidaklah berhenti di satu cara saja. Tetapi kreativitas tiada henti.
Biasanya saya memperkuat jawaban saya dengan pernyataan lainnya, seperti klasifikasi keaktifan pengikut (followers) atau penyuka (likers) yakni ada pengikut dan penyuka yang aktif (secara identitas akun) atau yang aktif mengikuti akun yang telah mereka ikuti di setiap posting-an lalu ada juga jenis akun yang ‘kosong’ (hanya dibuat tetapi tidak aktif menggunakannya). Dan, jawaban yang memperkuat lainnya adalah fungsi utama sebagai digital marketer yang melihat detail tentang karakter market dan bagaimana bisa ‘menyampaikan pesan’ ke market yang akan dituju.
Kiranya perjalanan kata-kata untuk tulisan ini sudah tiba pada akhirnya. Apabila ada kata-kata penyambungnya, kami akan mengunggahnya di tulisan kami berikutnya.
Sampai jumpa di tulisan kami berikutnya!
