Saya masih ingat benar ketika seorang marketing sebuah villa memanggil saya untuk datang ke tempat kerjanya untuk melihat portfolio saya. Lalu ketika dia melihat-lihat, dia terhenti pada halaman portfolio makanan yang pernah saya tangani. Setelah itu dia melihat piring putih (terdapat makanan) yang terlihat oversaturasi/berlebihan cahaya. Dia memberi opini kepada saya, ”Foto ini oversaturasi!” (dengan nada yakin. Dan ‘tergambar’ dari ekspresi atau gesture tubuh serta nada bicaranya bahwa oversaturasi adalah hal yang negatif)
Saya teringat dahulu ketika saya masih pada masa awal belajar fotografi, dimana sering sekali teman-teman saya mengatakan bahwa oversaturasi itu adalah hal buruk dan harus dihindari. Akan tetapi, seiring bergulirnya waktu saya mencoba hal yang tidak biasa. Termasuk bermain dengan hal-hal yang ‘nyeleneh’. Tapi dari hasil ‘permainan’ itu, saya mendapat banyak pembelajaran. Salah satunya adalah anggapan yang ‘mematahkan’ ajaran yang saya dapatkan dahulu yakni oversaturasi adalah buruk adanya. Kini, saya berani dengan tegas mengatakan, ”Tidak setuju dengan hal itu!” Alasan saya adalah oversaturasi justru ‘memperkuat’ obyek utama (salah satunya adalah foto makanan). Dan satu hal lagi yang saya dapatkan dan yang harus diperhatikan adalah tahap penerapan. Tidak semua teknik oversaturasi ini baik untuk diterapkan pada semua media. Jadi, perlu kompleksitas berfikir yang tinggi dalam berkarya dengan menggunakan sebuah teknik.
Dan masih banyak teknik ‘negatif’ yang saya temukan dan saya gunakan dalam karya-karya saya lainnya.
Selamat berkarya dan maju seniman Indonesia.