Kedalaman Telaah Budaya

Tagline atau slogan tentang penyadaran akan budaya tradisional (budaya asli dari suatu tempat) dari yang sederhana dan dapat mudah dicerna oleh masyarakat umum sampai yang sulit dicerna, banyak digaungkan diberbagai media baik cetak (majalah, koran dan lainnya) maupun non cetak (TV, radio dan lainnya). Satu sisi saya sangat senang akan fenomena tersebut. Akan tetapi ada fenomena yang sangat kontras di kalangan akademisi atau intelektualitas, tempat saya mengajar. Satu pertanyaan yang saya lontarkan kepada mahasiswa ketika itu adalah, “Apakah kalian menyukai mata kuliah atau sejarah budaya Indonesia dan berapa nilai tertinggi pada ujian tengah semester?” Yang membuat saya tercengang adalah jawaban mereka yang mengatakan bahwa mereka tidak tertarik dengan sejarah terutama sejarah budaya Indonesia dan nilai mereka rata-rata dibawah standar. Saya mencoba mencari penyebabnya, apakah berasal dari faktor luar mahasiswa (sebagai salah satu contoh cara pengajaran) atau memang dari dalam diri mahasiswa.

Kalau kita berusaha membedah, begitu banyak karya hebat yang diwariskan nenek moyang orang Indonesia.

Sebagai contoh yang sampai sekarang masih kita bisa lihat adalah Candi Bentar (sering di jumpai di Bali atau Pura di luar Bali.) Candi Bentar adalah bangunan yang terdiri dari 2 bagian simetris yang saling berseberangan dan berlawanan yang mirip cermin (sebelah kiri dan kanan). Candi Bentar telah ada dari ratusan lalu, zaman dimana belum diketemukannya penggaris modern yang saat ini sering kita gunakan. Akan tetapi tingkat presisi kedua sisinya sangat tinggi. Zaman ratusan tahun lalu dimana orang hanya menggunakan sistem manual (ada yang menggunakan sistem bentang tangan – yang dikenal dengan hasta dan depa, sistem langkah kaki atau menggunakan sebatang benda seperti dahan pohon atau lainnya). Masih banyak kecerdasan nenek moyang lainnya yang diwariskan ke generasi yang baru. Akan tetapi, yang terjadi pada generasi saat ini adalah generasi yang ‘mendalami’ warisan nenek moyang hanya sebagai permukaan (kurang mendalami inti dari budaya tradisional). Satu sisi, ada beberapa pribadi yang mengatakan pada saya, “Itu sudah baik!” Satu sisi memang kalimat itu terdengar bijaksana, tapi satu sisi lain ‘mendukung’ pelunturan pencarian inti yang ada pada karya jenius nenek moyang kita.

Setelah data yang saya kumpulkan lalu saya analisa, maka hingga saya mencapai sebuah kesimpulan, apapun alasan mahasiswa dalam perkuliahan sejarah budaya Indonesia (baik dari faktor luar ataupun dalam), maka tidaklah mengherankan kalau para calon desainer professional Indonesia kurang dapat menelurkan karya eksploratif dari budaya Indonesia.

Tulisan ini tidak ingin menghancurkan mental generasi muda sekarang. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan dan mengajak untuk generasi sekarang ini untuk menggali lebih dalam lagi karya nenek moyang kita, Indonesia.

Maju generasi Indonesia, maju bangsa Indonesia.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *