Pada awal tahun 2011, kurang lebih 2 minggu lebih saya berada di tempat kelahiran saya, Jakarta. Kurang lebih 15 tahun saya meninggalkan secara aktif kehidupan besar kota Jakarta untuk menuntut ilmu sekaligus bekerja di Pulau Dewata, Bali. Meski tidak menentu, dapat diperkirakan 1 sampai 2 kali dalam setahun, saya menjenguk keluarga yang berada di Jakarta. Salah satu kemajuan kota Jakarta yang menjadi kebanggaan saya adalah alat transformasi rakyat yakni Busway. Meski masih menuai kritik dari beberapa kalangan, akan tetapi tidak adil bagi saya untuk tidak memuji ide dan kerja keras beberapa orang tentang usaha tersebut untuk mengurangi masalah yang ada di kota Jakarta. Bagi saya, tidak adil bagi para pencetus ide dan pekerja keras yang hanya bisa dikritik tapi tidak memberikan solusi yang konkret bagi kemajuan bersama. Semakin berkembangnya pola pikir yang ada pada masyarakat sekarang, hanya digunakan sebagai kritikus tapi tidak langsung membantu ikut serta dalam memecahkan masalah tersebut. Dengan dalih dari beberapa pribadi dan golongan, “Kan lewat kritik kami ini, kami juga ikut ambil bagian dalam perkembangan kota!”
Bagi saya, memang itu membantu dan tidak salah akan hal itu, akan tetapi kadang kita melupakan sesuatu yakni kita mampu juga untuk melakukan kritik kita sendiri meski itu hanya berkekuatan ‘kecil’.
Sebagai contoh, kita terus berteriak Jakarta banjir setiap tahunnya, tapi kita sendiri membuang sampah sembarangan. Baik di jalan sampai di sungai. Go green hanya sebuah simbol yang tidak disadari secara mendasar dari setiap pribadi bahwa bumi ini adalah titipan anak cucu kita dan kita harus menjaganya.
Memang menyeramkan ketika saya menganalisa sebuah tulisan tentang kritik tentang pekembangan desain zaman modern. Dimana pada zaman modern, industri kimia dan bahan sintetik berkembang pesat. Penggunaannya berkembang ke segala bidang. Sebagai contoh plastik untuk produk konsumsi, bahan kimia untuk kebutuhan rumah tangga. Memang penemuan-penemuan alat maupun bahan tersebut membantu manusia. Akan tetapi, ternyata penemuan-penemuan tersebut juga memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam mempercepat ‘penghancuran’ bumi ini. Maka pada dekade 60-an, terjadilah kesadaran pada masyarakat akan pemeliharaan dan perbaikan pola pikir. Gerakan kesadaran ini dikenal dengan Revolusi Hijau. Revolusi ini diawali oleh Gerakan akar rumput (Grass Root), yang bertumpu pada lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Gerakan ini tersebar di seluruh Amerika Serikat secara terus menerus dan dibeberapa ruang. Baik dari lapangan, ruang pengadilan sampai ruang pemerintahan. Yang artinya, semua pribadi secara militan berjuang demi Revolusi Hijau ini. Pertanyaan untuk kita bangsa Indonesia, “Sudahkah seluruh ruang sadar akan revolusi hijau ini?” Sangat ironis memang ketika saya melihat berita disalahsatu media tv, ternyata didalam kawasan Gedung Wakil Rakyat Indonesia justru bebas merokok. Padahal mengisap rokok (dalam keadaan dibakar) juga menjadi bagian dalam mempercepat penghancuran bumi. Belum lagi pelepasan CO2 yang dihasilkan oleh emisi mesin indutri dan kendaraan bermotor. Dimana sifat dari CO2 adalah menyerap panas. Sehingga panas sinar matahari yang masuk ke dalam atmosfer bumi tidak bisa dilepaskan kembali ke luar angkasa karena kandungan CO2 yang terkandung didalam atmosfer bumi. Yang inilah sering kita sebut Efek Rumah Kaca, dan frasa ini sendiri digunakan oleh sebuah band Indonesia dan mereka menyerukan tentang pelestarian alam. Lebih ironis lagi, mengapa masih saja terjadi kerusuhan yang berbau SARA terjadi di bumi pertiwi Indonesia?
Pertanyaannya adalah ”Kenapa dalam tulisan saya ini langsung menyambung ke isu SARA? Apa hubungannya dengan perkembangan desain modern?” Kesimpulan yang saya dapatkan dari pembedahan saya tentang Sejarah Desain Modern (baik perkembangan sebelum masa modern maupun sesudah masa modern) adalah dari manapun asal kita atau suku kita, agama kita dan ras kita. Kehancuran bumi itu akan pasti terjadi. Untuk apa mempeributkan atau membuat kerusuhan dan kekerasan sebagai alat penenang ? Kalau itu menyangkut kebebasan manusia dalam menentukan pilihannya.
Contoh pada alinea pertama saya adalah contoh kecil, dengan menggunakan angkutan umum busway ketika di Jakarta, setidaknya saya sedikit mengurangi penambahan CO2 dari kendaraan pribadi. Memang konsekuensinya adalah kenyamanan pribadi berkurang. Jadi, kesimpulannya adalah mempelajari desain tidak hanya apa yang tampak (pada Desain Komunikasi Visual) tapi juga pola pikir akan dampak yang akan muncul. Dan selanjutnya adalah tindakan dari pola pikir itu.
