Instagram-Write

Ketatnya Persaingan Promosi di Instagram

Beberapa tahun yang lalu saya memulai mempromosikan jasa studio kreatif saya melalui Instagram. ‘Kehilangan’ beberapa kali akun Instagram usaha saya, tidaklah mudah bagi saya dan tim pada waktu itu. Saya pribadi tidak ingat kapan tepatnya saya  memulai menggunakan Instagram. Akan tetapi yang saya tahu pasti adalah kami (saya dan tim) menggunakan Instagram sebelum terjadinya akuisisi Instagram oleh Facebook (2012). Pada awalnya penggunaan Instagram saya hanya sebatas tentang ‘aku’. Perlahan saya dan tim menemukan ide untuk Instagram tersebut digunakan sebagai ajang/tool promosi jasa studio yang kami dirikan (akan tetapi saya tidak mengatakan bahwa kami adalah pengguna/pelopor dari gerakan ini).

Kalau kita berbicara ‘kiblat’ penggunaan Instagram kini, sangat jauh berbeda. Kini banyak akun Instagram yang digunakan untuk mempromosikan jasa atau produk (dalam bertransaksi bisnis). Dan pergeseran itu sangat cepat, ‘hanya’ dalam 8 tahun usia Instagram (2010–2018). Pada awal kami menggunakan Instagram sebagai salah satu alat marketing kami, masih tidak banyak yang menggunakan media sosial ini sebagai alat marketing. Kami mencatat hanya dalam waktu 1–2 tahun, fungsi sebagai alat marketing usaha semakin meluas bahkan sangat cepat pertumbuhannya.

Kalau kita memutar roda waktu ke belakang maka satu-satunya alat digital marketing hanya website. Akan tetapi kini berkembangnya media sosial, website sendiri sudah bukan menjadi satu-satunya alat digital marketing tapi masih tetap dibutuhkan (dalam tulisan sendiri kami akan memberikan bedahannya). Menurut beberapa data yang kami dapatkan dari dalam negeri (seperti Kompas, Liputan6 dan lainnya) maupun luar negeri, pengguna akun aktif mencapai 1 milyar setiap bulan. Oleh Instagram, data ini didapatkan dari akun yang ‘bergerak’. Bergerak yang dimaksudkan adalah dari masuk–keluarnya akun, mungunggah, menyukai, mengikuti serta mengomentari foto/gambar akun lainnya. Dan 50% dari 1 milyar akun Instagram tersebut (500 Juta pengguna), aktif setiap harinya. Itu sebabnya dalam buku panduan (elektronik) yang kami terbitkan bagi calon klien kami, sebagai latar belakang bagaimana pentingnya membangun market lewat Instagram. Kini, ada lebih dari 8 juta akun bisnis. Data yang kami dapatkan juga bahwa pertumbuhan pengikut sebuah brand meningkat dari 6% menjadi 8% per-bulannya. Mari kita hitung 6% dikalikan 1 miliar akun sama dengan 60–80 juta akun (pertumbuhan pengikut sebuah brand secara keseluruhan). Luar biasa pengaruhnya, bukan?

Studio kami sendiri memiliki target pengikut (follower) maupun penyuka (liker) bagi setiap klien kami (target proses dan bukan target hasil). Maksudnya adalah kami terus bergerak (bukti alat bacanya adalah likers/penyuka dan followers/pengikut). Akan tetapi apabila hasil perjalanan kami ‘masih kurang’ maka kami akan terus bergerak sehingga hasil followers/pengikut dan likers/penyuka masih sedikit, itu bukan tolak ukur mutlak. Supaya usaha klien (brand) yang sedang kami pegang dapat terus dikenal oleh target pasar.

Perkembangan media sosial menjadi salah satu ‘perbedaan besar’ dari pergerakan marketing sebuah perusahaan. Itu sebabnya, ciri khas dari sebuah perusahaan modern adalah penggunaan Instagram sebagai salah satu alat utama marketing.

favorite-meat-halal-haccp

Elemen Kecil dengan Pengaruh Besar

Ada kalimat yang mengatakan, ”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Kalimat ini telah saya dengar sejak lama. Beberapa orang menerjemahkannya bervariasi karena sudut pandangnya berbeda-beda pula. Akan tetapi perbedaan tersebut bukanlah menunjukkan sebuah pertentangan. Justru perbedaan cara pandang itu menunjukkan kedalaman kalimat tersebut. Akan tetapi saya sering mendengar hal yang sederhana dari maksud kalimat tersebut yakni belajarlah dari hal-hal kecil.

Kurang lebih 2 tahun adalah perjalanan sebagai marketing konsultan di sebuah perusahaan bernama Favorite Meat Processing adalah hal yang sangat luar biasa. Ucapan syukur saya kepadaNya tiada henti-henti. Setiap langkah saya beserta tim jalani. Banyak masalah yang kami temui, akan tetapi sekali lagi itu membuat kami tertantang selalu memperbaiki diri.

Di awal kerja sama kami, saya secara pribadi langsung menuliskan beberapa langkah di studio yang harus kami jalankan. Digital marketing (lewat social media) sebagai ‘senjata’ yang paling ampuh dalam membangun brand ini. Tapi sambil kami berfikir apakah senjata hand-to-hand tool yang paling dekat dan ampuh. Ternyata hasil pengumpulan data dan analisis kami (saya dengan tim) tertuju kepada satu alat yang telah diedarkan selama ini yakni kardus atau boks kemasan produk tersebut. Lalu saya bersama tim pemasaran Favorite Meat Processing berdiskusi yang ternyata memang mereka juga memikirkan hal itu. Kesamaan pemikiran ini yang akhirnya membuat saya dan tim bertindak ke langkah selanjutnya.

Salah satu hal yang juga kami coba perbaiki adalah kemasan. Hal pertama yang kami ‘benahi’ adalah elemen ‘kecil’ namun penting yakni logo sertifikat halal dan HACCP. Kami terus menganalisa kemasan yang telah digunakan selama ini. Kami memulai seperti yang dikatakan di paragraf pertama tulisan ini yakni hal kecil apa yang penting yang ‘harus’ dimasukkan ke dalam desain kemasan yang baru. Sebuah data yang paling penting yang kami dapatkan adalah perubahan budget tidak boleh terlalu besar (membengkak). Buat kami, itu bukanlah masalah yang besar. Karena kami berfikir dan bertindak sesuai dengan keinginan klien itu sendiri. Apabila ada hal yang kami anggap bertentangan dengan market, maka kami akan anjurkan sesuai dengan pandangan market yang akan mereka tuju. Dan bukan apa yang kami pribadi (Rio Dwisandy Branding Studio) mau.

Ternyata ada beberapa hal penting yang kecil-kecil yang kami harus ‘masukkan’. Mengapa? Justru elemen-elemen tersebut adalah elemen yang sangat besar pengaruhnya terhadap brand tersebut. Elemen-elemen itu diantaranya adalah logo halal, logo HACCP dan tagline perusahaan. Kalau dilihat dari besar ukuran, ketiga elemen ini sangat kecil dibandingkan luas sebuah sisi dari kemasan produk itu (kira-kira berkisar 1 : 30/elemen). Elemen ini sangat penting bagi market perusahaan ini. Saya meyakini bahwa market ingin keamanan dan kenyamanan dalam mengkonsumsi produk ini. 2 dari 3 hal kecil terswebut adalah ‘identitas’ dari produk tersebut. Dengan brand (merek) memasukkan 2 hal kecil itu, berarti dengan jelas dan tegas ‘menyatakan’ siapa diri mereka.

Dari momen ini akhirnya mempengaruhi kinerja kami selanjutnya yakni untuk terus bertindak dari hal-hal kecil. Tidak hanya untuk perusahaan ini akan tetapi juga untuk perusahaan-perusahaan lain yang kami tangani.

Kiranya tulisan ‘kecil’ ini dapat menjadi pembelajaran juga untuk anda berfikir dan bertindak.

Hal yang kecil dapat mengungkapkan sesuatu yang lebih besar.

Social Media functions

Media Sosial, Fungsinya

Cahaya pagi menyapaku. Menghentikan lelapnya tidurku.

Aku duduk sejenak untuk mengalirkan darah ke kepalaku. Lalu kuucapkan syukur kepadaNya atas hidup yang telah diberikan. Perlahan aku mengambil telepon genggamku dan mengaktifkannya. Tidak berselang lama, bunyi-bunyi pemberitahuan dari telepon genggamku datang silih berganti. Satu persatu pemberitahuan itu kulihat. Pemberitahuan yang berasal dari beberapa media sosial yang telah kuikuti. Akan tetapi entah mengapa pikiranku terbawa oleh satu pemberitahuan. Pemberitahuan tentang tawaran di media sosial Instagram untuk membeli pengikut (followers) dan penyuka (likers). Pikiran itu membawaku lebih dalam lagi untuk bertindak mengumpulkan data lalu menganalisanya. Pada akhirnya dalam pikiranku bertanya, ”Apakah sebenarnya fungsi saya memiliki media sosial dalam usahaku kini? Sebagai media marketing atau memberitahukan pasar tentang jasa atau produkku? Atau?”

Perlahan-lahan kulangkahkan kaki untuk mengumpulkan literatur untukku menjawabnya. Dan perlahan-lahan juga di pikiranku menjawab bahwa ada sebagian orang atau perusahaan yang berlomba memiliki begitu banyak pengikut (followers) dan penyuka (likers) untuk ‘dijual’ (dalam bentuk yang berbeda sebagai pengiklan sebuah produk atau menjual kembali para pengikut dan penyuka mereka kepada akun lainnya). Apa pun tujuannya itu, bagiku sah-sah saja.

Ketika kami menawarkan proposal jasa social media marketing ke beberapa perusahaan, seringkali kami menemukan pertanyaan mengapa pengikut/follower dan penyuka/likers anda tidak banyak? Padahal anda adalah perusahaan yang concern akan hal ini?

Dengan perlahan kami menjawab, kami memiliki tapak tujuan yang berbeda dengan beberapa orang atau perusahaan yang berlomba-lomba untuk memperbanyak pengikut dan penyuka. Tapak tujuan kami dalam fungsi media sosial marketing/branding adalah sebagai ruang portofolio yang akan dilihat oleh para calon pengguna usaha kami. Jadi kami tidak mencari atau mengumpulkan pengikut dan penyuka sebanyak-banyaknya. Peran media sosial ini dapat ‘sedikit’ menggantikan peran serta website yang dahulu memiliki status ‘raja’ atau ’satu-satunya’ alat digital marketing selain surat elektronik (e-mail). Memang kelebihan dan kekurangan masing-masing alat marketing tetap ada, akan tetapi semuanya itu dapat digunakan sebagai wujud sebuah usaha itu tidaklah berhenti di satu cara saja. Tetapi kreativitas tiada henti.

Biasanya saya memperkuat jawaban saya dengan pernyataan lainnya, seperti klasifikasi keaktifan pengikut (followers) atau penyuka (likers) yakni ada pengikut dan penyuka yang aktif (secara identitas akun) atau yang aktif mengikuti akun yang telah mereka ikuti di setiap posting-an lalu ada juga jenis akun yang ‘kosong’ (hanya dibuat tetapi tidak aktif menggunakannya). Dan, jawaban yang memperkuat lainnya adalah fungsi utama sebagai digital marketer yang melihat detail tentang karakter market dan bagaimana bisa ‘menyampaikan pesan’ ke market yang akan dituju.

Kiranya perjalanan kata-kata untuk tulisan ini sudah tiba pada akhirnya. Apabila ada kata-kata penyambungnya, kami akan mengunggahnya di tulisan kami berikutnya.
Sampai jumpa di tulisan kami berikutnya!

Tentukan fungsi media sosial Anda sebelum Anda memulainya.

WhatsApp Image 2018-10-01 at 19.09.06

Sebuah Jalan ke Rumah

Seringkali kami temui dengan budget yang terbatas sebuah perusahaan baru belum dapat memahami bagaimana ‘memainkan’ atau menjalankan media promosi dengan baik. ‘Hantam kromo’ adalah tindakan yang sering kami jumpai. Padahal dengan perhitungan yang matang dan terencana, sebuah perusahaan akan menekan budget, efisiensi kerja, efektif serta memiliki sistem (dasar) yang baik dalam membangun.

(Bagi perusahaan baru) Dalam sudut pandang marketing (yang efektif), media sosial idealnya menjadi ujung tombak awal / dasar dalam mempertontonkan ‘wajah’ perusahaan. Jadi keberhasilan ‘memainkan’ sosial media adalah titik awal yang baik dalam membentuk market.

Media sosial sebagai jembatan perusahaan menuju pasar.

Media sosial sebagai jembatan perusahaan menuju pasar.

A child walking in the midst of waterfall.

Sensasi Hitam Putih

Warna adalah sebuah pengalaman visualisasi yang bergantung dari cahaya. Apabila tidak ada cahaya maka tidak akan ada warna. Sering dalam literatur yang kita dapatkan dan baca, hitam bukanlah sebuah warna. Sesungguhnya pernyataan itu tidaklah benar. Tapi sesungguhnya hitam itu adalah warna tanpa hue. Hitam, abu-abu (gray) dan putih adalah warna yang memiliki cahaya yang berbeda. ‘Mereka’ adalah warna netral (achromatic color/warna-warna tanpa hue). Hitam putih pada ruang fotografi adalah merekam dimensi pencahayaan pada warna (nilai atau sifat) kedalam hitam, abu-abu (grey) dan putih. Kemampuan seseorang untuk memvisualisasikan sebuah karya mempengaruhi penempatan achromatic tersebut.

Saat-saat ketika saya memulai belajar fotografi, sangat sulit memahami foto yang berbasis hitam putih. Bagi saya yang dahulu, hitam putih tidak memiliki sensasi yang ‘menggerakkan’ jiwa.

Seiring bergulirnya waktu dan pengalaman, akhirnya saya ‘menyentuh’ sisi kebosanan akan warna dan mencari sensasi lain. Maka saya memulai sensasi baru dalam hitam putih. Mengolah beberapa gambar/image ke dalam hitam putih dan mencari data pembanding tentang hitam putih. Ketika pada masa pencarian tentang hitam putih, ternyata ada sensasi yang berbeda dalam hitam putih. Sensasi yang saya jelaskan pada alinea/paragraf pertama, yakni transisi warna (non hitam, abu-abu dan putih) ke dimensi achromatic (hitam, abu-abu dan putih). Ternyata hue (baik value dan lightness) menentukan gradasi achromatic. Sebagai contoh warna merah apabila diubah ke dalam achromatic akan berbeda dengan warna biru yang diubah ke dalam achromatic. Akan tetapi seringkali seorang fotografer tidak mengetahui hal-hal dasar tersebut. Hanya mengetahui hitam putih secara visual. Tapi proses dan historikal dasar dari hitam putih tidak dimaknai mendalam. Dan di dalam sebuah transisi, maka kita juga pastinya akan berbicara tingkatan, yakni tingkatan cahaya dalam hitam putih.

Masih banyak lagi pengalaman hitam putih yang saya dapatkan seperti notasi achromatic, jenis achromatic dan lainnya. Terlampau dalam dan panjang kalau diteruskan. Maka saya hanya mengucapkan satu kalimat saya, ”Selamat menikmati dunia hitam putih dari saya!”

“Dan semoga berkenan”

Salam Manis,
Rio Dwisandy

LinkedIn Profile

7 Hal Baik dan 7 Hal Buruk dalam Memperbarui Status LinkedIn

Pada hitungan Romawi angka 10 merupakan angka yang sempurna. Akan tetapi dalam proses penciptaan maka angka 7 adalah angka sempurna. Dimana Sang Pencipta ‘bekerja’ dalam 6 hari dan 1 hari untuk ‘berhenti sejenak’. Itu sebabnya beberapa orang melihat angka tujuh ini merupakan angka sempurna. Dan dalam pembahasan inipun ada 7 hal baik dan 7 hal buruk yang harus dilakukan dalam meng-update status LinkedIn.

7 hal baik yang anda harus lakukan adalah:

  1. Berbagi link (menggunakan alamat URL) ke artikel menarik, website atau video yang anda telah temukan sehingga orang lain juga dapat belar dari link tersebut. Jangan khawatir tentang apakah semua koneksi anda akan menemukan informasi sama-sama berharga lalu tidak membagikan kepada anda. Karena ketika anda memberi maka energi anda untuk mendapatkan hal yang baru lebih besar.
  2. Mengajukan pertanyaan yang dapat menyebabkan memecahkan masalah yang anda miliki, seperti: ” Ada yang tahu kandidat stock controler yang baik ?” Dan juga (kalau anda berkenan dan kira-kira kandidat tersebut dibayar ‘pantas) sertakan juga besar gaji atau fasilitas yang anda tawarkan kepada kandidat.
  3. Melakukan jejak pendapat informal jaringan anda (yang terdiri dari banyak pengusaha pintar) yang berkaitan dengan topik yang menarik bagi Anda, seperti: “Meningkatkan market/pasar dengan sosial media apakah lebih efektif ?”
  4. Sebutkan orang atau situasi yang mungkin bisa membantu untuk beberapa koneksi Anda, seperti: “Aku bertemu dengan Hermawan (pakar marketing) dan berbicara banyak tentang marketing. Lalu saya menemukan cara untuk menghemat pengeluaran dari marketing tapi dapat efektif menyentuh pasar”
  5. Bicaralah tentang acara yang akan anda lakukan. Atau anda akan menghadiri suatu acara. Dan acara tersebut juga ‘menarik’ orang untuk datang (maka berbagilah).
  6. Jika anda seorang pencari kerja, jangan gunakan kalimat seperti ini untuk mengatakan secara langsung kepada seseorang yang anda belum kenal, “Halo, nama saya … dan aku masih mencari pekerjaan.” Usahakan ‘masuk’ secara perlahan-lahan. Ceritakanlah pelan-pelan pengalaman dan reputasi anda sebelumnya.
  7. Gunakan tombol “Like” fitur ketika anda melihat update membantu dari salah satu koneksi anda. Melakukan bagian ini yang update dengan seluruh jaringan Anda.
Selain 7 langkah yang anda harus lakukan, ada hal lain juga yang harus anda jangan lakukan. Silahkan menyimak ketujuh hal itu :
  1. Menyebutkan hal-hal pribadi. Sebagai contoh apa yang anda miliki (kekayaan), sarapan pagi ini dan fakta anjing anda sakit hari ini. Hal ini menunjukkan bahwa anda tidak sedang menghargai waktu para kolega profesional bisnis anda.
  2. Terus menerus berbicara tentang produk dan jasa. Ini bukan tujuan dari media sosial, terutama LinkedIn.
  3. Hindari berbicara tentang topik yang mungkin sensitif terhadap beberapa audiens anda. Seperti hal perbedaan ras, suku, agama dan lain sebagainya. Yang pada akhirnya hanya menimbulkan konflik horizontal.
  4. Berpikir dua kali sebelum posting status anda dan bacalah kembali. Kira-kira apakah ada yang salah baik segi penulisan atau makna ?
  5. Setiap media social memiliki tujuan dan strategi yang berbeda-beda. Sehingga anda harus mengerti betul apa yang harus anda tulis. Jangan ‘perlakukan’ LinkedIn seperti anda berbicara di Twitter (dalam hal tertentu seperti perasaan marah dengan seseorang atau hal lainnya)
  6. Jangan meng-update LinkedIn ‘sama jumlahnya’ dengan media lain seperti twitter atau facebook.
  7. Jangan buang waktu Anda membaca update dari orang-orang yang melanggar semua hal di atas. Dengan menggunakan fungsi “Hide”, anda dapat berhenti update status seseorang tersebut sehingga tidak dapat muncul di halaman depan LinkedIn anda.

Ini hanyalah saran. Pengetahuan ini berasal dari beberapa sumber. Akan tetapi apabila ada yang kurang berkenan, silahkan email kami. Akan tetapi Apabila ada hal yang baik, silahkan anda dapat menjalankannya.

Sebutkanlah hal-hal yang perlu saja.

Social Media Usage

Mengapa Bisnis Harus Menggunakan Jejaring Visualisasi

Beberapa tahun lalu di Indonesia, jejaring visual seperti Instagram dan Pinterest tidak banyak digunakan oleh banyak perusahaan-perusahaan. Instagram dan Pinterest kebanyakan digunakan oleh pribadi atau ajang promosi perusahaan yang berkaitan langsung seperti perusahaan jasa fotografi, videografi dan beberapa perusahaan yang terkait lain. Akan tetapi ternyata penyataan Sharad Verma (CEO Piqora) mengatakan hal yang berbeda. Seharusnya perusahaan-perusahaan menggunakan situs-situs ini sebagai jembatan promosi. Saya membaca dengan teliti tulisan atau bedahan Sharad Verma lalu saya mencoba menganalisis dan membuktikan lewat fakta-fakta yang terjadi.

Ternyata, apa yang diungkapkan oleh Sharad Verma memang kuat.

Alasan pertama adalah dasar jaringan atau komunitas. Kita tidak dapat memungkiri bahwa komunitas pencinta image atau gambar (gambar bisa berupa foto, sketsa tangan/ilustrasi dan seni gambar lainnya) sangat banyak sekali. Sehingga jejaring ini bisa digunakan untuk melakukan ‘brand activity’. Apalagi baru-baru ini ditemukan fakta bahwa orang pelihat gambar dan belajar dari gambar sangat tinggi sekali. Sebenarnya, kebanyakan orang salah mengartikan (saya temukan di Indonesia) bahwa media sosial untuk membuat jaringan hanya Facebook dan Twitter. Akan tetapi, Instagram dan Pinterest juga media jejaring sosial, hanya saja Instagram dan Pinterest menggunakan gambar sebagai basis utamanya.

Alasan kedua adalah visualisasi dapat menjadi pembentuk citra sebuah perusahaan. Citra berkelas tinggi bisa ‘membawa’ perusahaan tersebut kepada kelas atas juga. Masih ingat di pikiran saya ketika melihat iklan sebuah merek alat-alat kantor. Dahulu dalam iklannya, mereka menggunakan model orang-orang kantor yang gagah, bersih dan rapi (untuk pria) dan wanita kantor yang elegan dengan jas dan senyuman yang manis dalam menyampaikan pesan. Akan tetapi kini perusahaan tersebut menggunakan gambar-gambar hasil dari alat tulis mereka sebagai penyampaian pesan. Mungkin sebagian kita akan berfikir, ”Iya jelas karena perusahaan itu masih sangat dekat kaitannya dengan gambar-menggambar.” Saya melihat fakta kini beberapa perusahaan lain seperti perusahaan otomotif pun menggunakan fasilitas gambar (dalam kasus ini gambar dalam bentuk foto dan sketsa). Dan, ada fakta yang sedikit mengejutkan saya adalah ketika saya menemukan beberapa hotel (lewat seorang fotografer) menggunakan Instagram dan Pinterest sebagai ajang promosi. Lalu saya bertanya apa impact-nya ? Ternyata para likers (sebutan penyuka foto untuk Instagram) menanyakan alamat hotel dan bahkan mereka berjanji untuk datang ke tempat tersebut. Ini saya buktikan sendiri, lewat akun Instagram saya.

Kurang lebih baru bulan April 2013 ini saya ‘bermain’ Instagram kembali, akan tetapi dampak seperti yang hotel itu rasakan, juga saya rasakan. Ada beberapa orang yang bertanya tentang lokasi foto saya (semua foto saya ambil di Indonesia) dan bahkan berjanji apabila ke Indonesia akan ke tempat tersebut.

Maka saya menyimpulkan bahwa tren gambar sekarang ini telah meningkat pesat. Itu sebabnya kepada beberapa pemimpin perusahaan terutama teman dekat saya, untuk desain ulang image atau memperbarui brand image-nya. Akan tetapi dalam mengubah image, haruslah hati-hati karena bisa jadi justru itu menjadi blunder (dalam permainan sepak bola, kata itu berarti kesalahan sendiri). Butuh data dan telaah/analisis yang jauh lebih dalam.

Cara agar tidak terjadi kesalahan sendiri, adalah :

  1. Kumpulkan data fakta sebanyak-banyaknya (dan selengkap-lengkapnya,)
  2. Analisis data tersebut dengan saksama,
  3. Percayakan orang yang berpengalaman dalam membuat atau membangun image; Diskusikan dengan bagian marketing perusahaan anda, atau supervisi market harus dilakukan oleh orang dalam/marketing,
  4. Buatlah hasil sementara,
  5. Lalu lemparkan hasil percobaan ke market yang cakupannya kecil. Analisis hasil sementara, tetapi harus berbanding dengan jumlah market.
  6. Kita akan mengetahui dari hasil analisis. Apabila terjadi ketidak-tepatan market, bukanlah masalah besar; justru itu menjadi masukan anda dalam menganalisa kembali. Ulangi langkah pertama sampai 5, akan tetapi dengan market kecil yang berbeda.
  7. Teruskanlah mencoba sampai market ‘terkena’. Di sinilah kemampuan ‘meracik’ ramuan marketing diuji.

Sekian tulisan dulu penjelasan saya kali ini. Akan tetapi saya hanya bisa mengusulkan, selebihnya terserah anda.

Visualisasi berperan membentuk citra sebuah perusahaan. Citra berkelas tinggi bisa membawa perusahaan tersebut kepada kelas atas juga.

Kajian Dasar Seni dan Desain: Touch The Feeling

Saya ingat dengan jelas ketika saya masih dalam proses awal belajar fotografi, begitu banyak teman-teman yang memberi masukan kepada saya. Rasa terimakasih saya tidak pernah terlupakan dan selalu menggema di telinga dan hati saya. Sebagai ucapan terimakasih, saya ingin memberi masukan kepada calon fotografer masa kini lewat tulisan ini. Masukkan yang dihasilkan dari telaah fotografi (data yang berdasar fakta) serta pencarian dari beberapa literatur yang saya dapatkan dari beberapa kampus yang ada di Indonesia.

Kali ini saya ingin memberi masukan mengenai dasar seorang fotografer dapat ‘menampilkan’ sebuah karya. Dalam buku Perception and Imaging karya Richard D. Zakia halaman 208, ada 3 asal muasal bagaimana fotografer dalam menampilkan sebuah karya. Saya tidak ingin membedah ketiganya secara sekaligus, akan tetapi satu per satu. Supaya dapat memudahkan calon fotografer dalam proses pembelajaran awal.

Asal muasal yang pertama adalah projection.

Ada seorang teman saya, yang tidak memiliki background seni ataupun desain (secara formal). Akan tetapi, ketika dia membeli sebuah kamera lalu berlatih secara terus menerus (secara otodidak) membuat dia mencapai sebuah puncak dari pembelajarannya. Sensivitasnya terhadap sebuah obyek sangat tinggi. Ketika dia melihat sesuatu obyek yang mungkin orang lain menganggapnya ‘biasa’, justru dia menganggapnya bahwa benda itu dapat dibedah sehingga dapat menghasilkan suatu foto yang luarbiasa. Fenomena ini saya perhatikan dengan seksama tanpa banyak berkata.

Lalu saya tertarik untuk ‘mendalami proses’ dan berusaha ‘menguji’ kemampuannya. Saya mencoba untuk mengajak dia untuk hunting bareng. Akan tetapi, saya ‘mempersilahkan’ dia untuk memimpin hunting tersebut. Seperti yang saya jelaskan pada kalimat sebelumnya, dia memilih beberapa obyek yang sama sekali tidak saya pikirkan itu akan menjadi sebuah hasil karya yang baik. Semakin saya tertarik ingin ‘mengikuti’ langkah-langkahnya. Lalu setelah selesai proses capturing, kami berkumpul di suatu tempat yang nyaman untuk proses picking. Ada lebih dari 100 frame foto yang saya perlihatkan kepadanya (foto standar yang belum diolah sehingga tingkat kemiripan satu dengan yang lainnya sangat tinggi bahkan bisa dikatakan mendekati sama), lalu saya meminta bantuan untuk memilihkan untuk saya. Alhasil, teman saya ini yang tidak mempunyai background formal di bidang seni (hanya pengalaman otodidak), dapat menentukan 10 frame foto dari 100 frame foto (bahkan lebih) mendekati 100 % sama dengan pilihan saya yang didasari oleh teorikal seni.

Yang dimaksud dengan projection adalah seorang fotografer dapat merasakan sebelum terjadi proses capturing sehingga obyek tersebut dapat ‘menonjol’. Ada 2 hal yang saya dapatkan dari peristiwa ini. Yang pertama fotografer tersebut memang diberikan anugrah/karunia langsung oleh Sang Pencipta. Dan yang kedua adalah pembelajaran (penggalian potensi diri). Poin yang kedua inilah yang ingin saya jelaskan bagaimana cara belajar dalam menangkap sebuah obyek sehingga kepekaan kita terhadap obyek sangat tinggi. Kunci awal dari pembelajaran ini adalah mendalami MORPHIC. Morphic dalam bahasa Yunani adalah Morphos yang berarti bentuk (form dalam bahasa Inggris). Selama saya hidup, saya telah menjumpai ada 6 jenis morphic yang ada di cakrawala yakni Isomorphic (kemiripan bentuk), Antropomorphic (bentuk manusia), Zoomorphic (bentuk binatang), Theriomorphic (bentuk menakutkan), Mechanomorphic (bentuk mekanik), Anamorphic (lebih dikenal dengan bentuk distorsi atau penghancuran). Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas secara detail keenam bentuk tersebut, ini dikarenakan sangat panjangnya bahasan tersebut dan sangat rumit. Akan tetapi dari ‘pembedahaan awal’ ini, saya berharap kepada calon desainer dan fotografer dapat ‘mengembangkan’ pengetahuan ini lebih dalam lagi. Sehingga yang nantinya dapat melatih diri dengan baik, dalam ‘menterjemahkan’ sebuah obyek kedalam sebuah karya.

Maju desain dan fotografi terapan Indonesia.
Maju Indonesia.

Perhatikan morphic, itu membentuk feeling dalam karya foto Anda.

Esensi Penggunaan Jejaring Sosial

Memang di Indonesia masih sedikit orang yang menggunakan sosial media sebagai ujung tombak perusahaan jasa atau produk menjangkau dunia. Akan tetapi di negara-negara besar seperti Amerika dan Eropa bahkan sudah membuka sekolah atau jurusan social media marketing. Tapi memang tidak banyak pemimpin perusahaan yang kurang percaya kepada karyawannya ketika membuka situs-situs media sosial seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Kekurang-percayaan itu memang memiliki landasan yang kuat yakni banyak karyawan yang apabila ‘dibebaskan’ untuk browsing atau berselancar di media sosial hanya menggunakan kepuasan pribadinya semata. Sebagai contoh beberapa orang yang hanya meng-upload/mengunggah makanan siang dan sarapan paginya atau mengunggah foto acara kumpul-kumpul bersama dan masih banyak lagi. Ketidakbertanggungjawaban karyawan menjadi benalu dalam perusahaan. Memang salahsatu ‘ketidakpercayaan’ dunia luar kepada pekerja Indonesia adalah masalah moral. Sebenarnya media social sangat baik dan penting sekali apabila digunakan dengan bertanggungjawab dan baik. Sebagai contoh sebagai ajang promosi perusahaan kepada teman-teman atau sebagai parameter brand activity perusahaan. Pisau digunakan untuk memotong bahan-bahan dapur, tapi pisau digunakan menjadi sesuatu yang mengerikan oleh orang-orang yang lepas control. Memang semua pada akhirnya tergantung dari manusianya. Secara garis besar, masyarakat Indonesia masih belum bisa memisahkan mana yang bersifat pribadi dan mana yang merupakan tanggungjawab. Apabila semua itu dapat digunakan dengan baik, niscaya perusahaan akan berkembang atau bahkan Negara juga akan berkembang. Itu sebabnya memang citra Indonesia sebagai negara dengan pemeluk agama terbesar sedang dipertaruhkan. Agama menjadi hal yang ‘lepas’ dari moralitas. Seharusnya pendidikan moral ada pada setiap agama. Akan tetapi mengapa kekerasan, pemaksaan kepercayaan, pembakaran atau pelarangan rumah Ibadat masih terjadi ? Hanya diri kita yang mampu menjawabnya dan memperbaikinya.
Salam Indonesiaku.
Tri Rismaharini

General Affairs Forum

General Affairs Forum (GAF) 2018 adalah General Affairs Forum ketiga yang diselenggarakan oleh SKK Migas dan PAMFI. Acara ini berlangsung di Inaya Putri Bali, Nusa Dua, Bali pada 30-31 Agustus 2018, dan ini adalah GAF pertama yang melibatkan industri di luar industri minyak dan gas, seperti Bank Mandiri dan Garuda Indonesia. Bertemakan “Breakthrough through Synergy,” acara ini melibatkan pembicara dari berbagai pihak, termasuk Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) and Krishna Murti (Kepala Biro Misi Internasional DIVHUBINTER Polri.) Kami dipercayakan oleh SKK Migas sebagai salah satu tim dokumentasi utama di acara ini.

[metaslider title=”GAF2018 (ID)”]