A man cycling on the street, daytime

Marketplace Semakin Ramai

Menyegarkan pikiran dengan menyusuri jalan-jalan di kota Denpasar adalah salah satu kegemaran saya setelah berlama-lama di dalam ruang kerja. Melihat begitu banyak tempat penjualan atau bisnis yang ada di sisi kiri dan kanan jalan. Akan tetapi, ketika berada di salah satu jalan, tepatnya di Jalan Teuku Umar, ada hal yang terlintas di benak saya : begitu banyaknya bidang iklan maupun tanda/sign sepanjang jalan tersebut. Bahkan ada satu toko yang memasang iklan lebih dari tiga dan berukuran besar.

Tidak ada hal yang yang membatasi untuk tindakan tersebut. Artinya, si pemilik toko berhak atas tindakan-tindakan tersebut. Akan tetapi saya rindu memberi sedikit masukan untuk dijadikan pemikiran para pebisnis, dan apabila masukan ini tidak menjadi bahan untuk perubahan (karena ada faktor lain), itupun tidak masalah. Salah satu masukan tersebut adalah keterbedaan. Ada beberapa tutor bisnis yang menyarankan kepada saya, ”Kalau ingin membuka sebuah usaha, carilah sesuatu yang berbeda.” Prinsip itu juga yang menjadi pemikiran dalam membuat bentuk iklan atau bentuk sign/tanda atau bahkan sistem marketing yang berbeda. Ini berfungsi agar orang melihat keterbedaan itu menjadi sebuah ketertarikan. Lalu pertanyaan lanjutan yang sering terlontar dari beberapa orang, ketika diskusi itu berlangsung, “Apakah contoh dari keterbedaan tersebut?”

Ada beberapa keterbedaan yang telah saya temukan di sekeliling saya.

Mungkin apabila kita berjalan di Jakarta atau kota besar lainnya, keterbedaan ini sudah menjadi suatu pemandangan yang tidak asing lagi. Akan tetapi belum banyak digunakan di kota-kota lainnya seperti Denpasar, Kupang dan kota-kota lain (terutama di luar Pulau Jawa). Adapun contoh dari keterbedaan tersebut dalam marketing tools, antara lain adalah :

Pengulangan (iklan yang diulang dalam sebuah area)

Ini berfungsi sebagai pembentuk irama di pikiran/otak. Irama yang berulang-ulang membentuk opini di otak orang yang melihatnya agar terus dapat mengingatnya. Sebagai contoh pada foto ini. Ada kata nyeleneh yang beberapa kali terdengar di telinga saya, ”Yang besar belum tentu menarik! Belum tahu dia, yang kecil bisa nendang”

Digital (visual technology)

Di Singapura terdapat membuat air mancur dari teknologi animasi 3 dimensi, seakan-akan air terjun tersebut asli tapi menariknya adalah air mancur itu bisa berwarna-warni. Contoh dari Negara Singapura ini bisa dijadikan contoh bahwa digital sign ini bisa menjadi salahsatu juga bentuk keterbedaan. Kalau di beberapa kota besar di Amerika seperti New York, Chicago dan lainnya, teknologi digital ini sudah lazim digunakan.

Materi isi (tokoh/karakter, alur, tagline, teknik visual dan lainnya)

Masih teringat dalam ingatan bahwa begitu banyak iklan yang dapat tertanam di benak para pemirsa seperti “I like Monday” (‘Aku suka [hari] Senin,’ lahir dari sebuah situasi dan budaya yang tidak menyukai hari Senin,) lalu tagline “Asiknya rame-rame” dan masih banyak hal lainnya yang dapat menarik penikmat sebuah iklan

Dan masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya. Dan itu membutuhkan pemikiran yang rumit dalam mewujudkannya, tapi bukan hal mustahil!
Selamat berkarya !

Keterbedaan berarti ketertarikan.

fd020fc1-35a3-45eb-9bd2-6126882a41a6

Sebuah Kritik Kehidupan dalam Perkembangan Desain Modern

Pada awal tahun 2011, kurang lebih 2 minggu lebih saya berada di tempat kelahiran saya, Jakarta. Kurang lebih 15 tahun saya meninggalkan secara aktif kehidupan besar kota Jakarta untuk menuntut ilmu sekaligus bekerja di Pulau Dewata, Bali. Meski tidak menentu, dapat diperkirakan 1 sampai 2 kali dalam setahun, saya menjenguk keluarga yang berada di Jakarta. Salah satu kemajuan kota Jakarta yang menjadi kebanggaan saya adalah alat transformasi rakyat yakni Busway. Meski masih menuai kritik dari beberapa kalangan, akan tetapi tidak adil bagi saya untuk tidak memuji ide dan kerja keras beberapa orang tentang usaha tersebut untuk mengurangi masalah yang ada di kota Jakarta. Bagi saya, tidak adil bagi para pencetus ide dan pekerja keras yang hanya bisa dikritik tapi tidak memberikan solusi yang konkret bagi kemajuan bersama. Semakin berkembangnya pola pikir yang ada pada masyarakat sekarang, hanya digunakan sebagai kritikus tapi tidak langsung membantu ikut serta dalam memecahkan masalah tersebut. Dengan dalih dari beberapa pribadi dan golongan, “Kan lewat kritik kami ini, kami juga ikut ambil bagian dalam perkembangan kota!”

Bagi saya, memang itu membantu dan tidak salah akan hal itu, akan tetapi kadang kita melupakan sesuatu yakni kita mampu juga untuk melakukan kritik kita sendiri meski itu hanya berkekuatan ‘kecil’.

Sebagai contoh, kita terus berteriak Jakarta banjir setiap tahunnya, tapi kita sendiri membuang sampah sembarangan. Baik di jalan sampai di sungai. Go green hanya sebuah simbol yang tidak disadari secara mendasar dari setiap pribadi bahwa bumi ini adalah titipan anak cucu kita dan kita harus menjaganya.

Memang menyeramkan ketika saya menganalisa sebuah tulisan tentang kritik tentang pekembangan desain zaman modern. Dimana pada zaman modern, industri kimia dan bahan sintetik berkembang pesat. Penggunaannya berkembang ke segala bidang. Sebagai contoh plastik untuk produk konsumsi, bahan kimia untuk kebutuhan rumah tangga. Memang penemuan-penemuan alat maupun bahan tersebut membantu manusia. Akan tetapi, ternyata penemuan-penemuan tersebut juga memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam mempercepat ‘penghancuran’ bumi ini. Maka pada dekade 60-an, terjadilah kesadaran pada masyarakat akan pemeliharaan dan perbaikan pola pikir. Gerakan kesadaran ini dikenal dengan Revolusi Hijau. Revolusi ini diawali oleh Gerakan akar rumput (Grass Root), yang bertumpu pada lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Gerakan ini tersebar di seluruh Amerika Serikat secara terus menerus dan dibeberapa ruang. Baik dari lapangan, ruang pengadilan sampai ruang pemerintahan. Yang artinya, semua pribadi secara militan berjuang demi Revolusi Hijau ini. Pertanyaan untuk kita bangsa Indonesia, “Sudahkah seluruh ruang sadar akan revolusi hijau ini?” Sangat ironis memang ketika saya melihat berita disalahsatu media tv, ternyata didalam kawasan Gedung Wakil Rakyat Indonesia justru bebas merokok. Padahal mengisap rokok (dalam keadaan dibakar) juga menjadi bagian dalam mempercepat penghancuran bumi. Belum lagi pelepasan CO2 yang dihasilkan oleh emisi mesin indutri dan kendaraan bermotor. Dimana sifat dari CO2 adalah menyerap panas. Sehingga panas sinar matahari yang masuk ke dalam atmosfer bumi tidak bisa dilepaskan kembali ke luar angkasa karena kandungan CO2 yang terkandung didalam atmosfer bumi. Yang inilah sering kita sebut Efek Rumah Kaca, dan frasa ini sendiri digunakan oleh sebuah band Indonesia dan mereka menyerukan tentang pelestarian alam. Lebih ironis lagi, mengapa masih saja terjadi kerusuhan yang berbau SARA terjadi di bumi pertiwi Indonesia?

Pertanyaannya adalah ”Kenapa dalam tulisan saya ini langsung menyambung ke isu SARA? Apa hubungannya dengan perkembangan desain modern?” Kesimpulan yang saya dapatkan dari pembedahan saya tentang Sejarah Desain Modern (baik perkembangan sebelum masa modern maupun sesudah masa modern) adalah dari manapun asal kita atau suku kita, agama kita dan ras kita. Kehancuran bumi itu akan pasti terjadi. Untuk apa mempeributkan atau membuat kerusuhan dan kekerasan sebagai alat penenang ? Kalau itu menyangkut kebebasan manusia dalam menentukan pilihannya.

Contoh pada alinea pertama saya adalah contoh kecil, dengan menggunakan angkutan umum busway ketika di Jakarta, setidaknya saya sedikit mengurangi penambahan CO2 dari kendaraan pribadi. Memang konsekuensinya adalah kenyamanan pribadi berkurang. Jadi, kesimpulannya adalah mempelajari desain tidak hanya apa yang tampak (pada Desain Komunikasi Visual) tapi juga pola pikir akan dampak yang akan muncul. Dan selanjutnya adalah tindakan dari pola pikir itu.

Kedalaman Telaah Budaya

Tagline atau slogan tentang penyadaran akan budaya tradisional (budaya asli dari suatu tempat) dari yang sederhana dan dapat mudah dicerna oleh masyarakat umum sampai yang sulit dicerna, banyak digaungkan diberbagai media baik cetak (majalah, koran dan lainnya) maupun non cetak (TV, radio dan lainnya). Satu sisi saya sangat senang akan fenomena tersebut. Akan tetapi ada fenomena yang sangat kontras di kalangan akademisi atau intelektualitas, tempat saya mengajar. Satu pertanyaan yang saya lontarkan kepada mahasiswa ketika itu adalah, “Apakah kalian menyukai mata kuliah atau sejarah budaya Indonesia dan berapa nilai tertinggi pada ujian tengah semester?” Yang membuat saya tercengang adalah jawaban mereka yang mengatakan bahwa mereka tidak tertarik dengan sejarah terutama sejarah budaya Indonesia dan nilai mereka rata-rata dibawah standar. Saya mencoba mencari penyebabnya, apakah berasal dari faktor luar mahasiswa (sebagai salah satu contoh cara pengajaran) atau memang dari dalam diri mahasiswa.

Kalau kita berusaha membedah, begitu banyak karya hebat yang diwariskan nenek moyang orang Indonesia.

Sebagai contoh yang sampai sekarang masih kita bisa lihat adalah Candi Bentar (sering di jumpai di Bali atau Pura di luar Bali.) Candi Bentar adalah bangunan yang terdiri dari 2 bagian simetris yang saling berseberangan dan berlawanan yang mirip cermin (sebelah kiri dan kanan). Candi Bentar telah ada dari ratusan lalu, zaman dimana belum diketemukannya penggaris modern yang saat ini sering kita gunakan. Akan tetapi tingkat presisi kedua sisinya sangat tinggi. Zaman ratusan tahun lalu dimana orang hanya menggunakan sistem manual (ada yang menggunakan sistem bentang tangan – yang dikenal dengan hasta dan depa, sistem langkah kaki atau menggunakan sebatang benda seperti dahan pohon atau lainnya). Masih banyak kecerdasan nenek moyang lainnya yang diwariskan ke generasi yang baru. Akan tetapi, yang terjadi pada generasi saat ini adalah generasi yang ‘mendalami’ warisan nenek moyang hanya sebagai permukaan (kurang mendalami inti dari budaya tradisional). Satu sisi, ada beberapa pribadi yang mengatakan pada saya, “Itu sudah baik!” Satu sisi memang kalimat itu terdengar bijaksana, tapi satu sisi lain ‘mendukung’ pelunturan pencarian inti yang ada pada karya jenius nenek moyang kita.

Setelah data yang saya kumpulkan lalu saya analisa, maka hingga saya mencapai sebuah kesimpulan, apapun alasan mahasiswa dalam perkuliahan sejarah budaya Indonesia (baik dari faktor luar ataupun dalam), maka tidaklah mengherankan kalau para calon desainer professional Indonesia kurang dapat menelurkan karya eksploratif dari budaya Indonesia.

Tulisan ini tidak ingin menghancurkan mental generasi muda sekarang. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan dan mengajak untuk generasi sekarang ini untuk menggali lebih dalam lagi karya nenek moyang kita, Indonesia.

Maju generasi Indonesia, maju bangsa Indonesia.

Pertanggungjawaban Tone

Puluhan atau bahkan ratusan atau bisa saja lebih jenis tone yang telah diketemukan. Akan tetapi, fakta yang saya temukan di lapangan, hanya sedikit fotografer yang dapat menjelaskan ketika ditanyakan mengenai tone. Jawaban yang paling sering saya temukan ketika bertanya kepada para fotografer tentang makna tone adalah kesukaan. Karena si fotografer suka dengan salah satu tone, maka dibuatlah tone tersebut. Latar belakang ini memang tidak salah, karena tolak ukur penggunaan tone dalam dunia seni (khususnya desain dan fotografi fungsional) tidak ada salah atau benar, yang menjadi tolak ukur adalah cocok apa tidak suatu desain atau fotografi fungsional (termasuk kecocokan rasa dalam seni).

Mengedit atau ‘mengubah’ tone sebenarnya bukanlah hal yang mudah dan dangkal, karena proses itu melibatkan ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh ilmu yang paling sering digunakan dalam ‘membedah’ makna tone adalah psikologi (logos = ilmu, psyche = jiwa). Hal ini bisa terlihat pada orang umum (masyarakat diluar seniman) ketika mereka memberi tanggapan, ”Wow, foto ini dramatis ya?” atau contoh-contoh tanggapan lainnya. Itu sebabnya, tidak aneh rasanya kalau salah seorang teman baik saya sekarang mengambil S2 (Strata 2) didalam bidang art therapy. Terapi yang menggunakan bidang seni (terutama visual) dalam mendidik anak-anak generasi yang akan datang dan juga dapat digunakan dalam proses penyembuhan (penyakit, termasuk gangguan kejiwaan). Unsur yang digunakan adalah unsur dalam dunia seni (titik, garis, bidang, ruang, warna dan lain sebagainya).

Masih ada lagi ‘pisau bedah’ tone atau ilmu pengetahuan lainnya yang dapat membuat tone itu bermakna. Seperti ilmu geografi (ilmu bumi), semiotika, hermeunetik dan lain sebagainya. Jadi, seorang fotografer sudah seharusnya dapat mempertanggungjawabkan setiap penggunaan tone dari sudut ilmu pengetahuan.

Maju fotografi Indonesia.
Maju Indonesia.

Kekurangan ≠ Ketidakbergunaan

Saya masih ingat benar ketika seorang marketing sebuah villa memanggil saya untuk datang ke tempat kerjanya untuk melihat portfolio saya. Lalu ketika dia melihat-lihat, dia terhenti pada halaman portfolio makanan yang pernah saya tangani. Setelah itu dia melihat piring putih (terdapat makanan) yang terlihat oversaturasi/berlebihan cahaya. Dia memberi opini kepada saya, ”Foto ini oversaturasi!” (dengan nada yakin. Dan ‘tergambar’ dari ekspresi atau gesture tubuh serta nada bicaranya bahwa oversaturasi adalah hal yang negatif)

Saya teringat dahulu ketika saya masih pada masa awal belajar fotografi, dimana sering sekali teman-teman saya mengatakan bahwa oversaturasi itu adalah hal buruk dan harus dihindari. Akan tetapi, seiring bergulirnya waktu saya mencoba hal yang tidak biasa. Termasuk bermain dengan hal-hal yang ‘nyeleneh’. Tapi dari hasil ‘permainan’ itu, saya mendapat banyak pembelajaran. Salah satunya adalah anggapan yang ‘mematahkan’ ajaran yang saya dapatkan dahulu yakni oversaturasi adalah buruk adanya. Kini, saya berani dengan tegas mengatakan, ”Tidak setuju dengan hal itu!” Alasan saya adalah oversaturasi justru ‘memperkuat’ obyek utama (salah satunya adalah foto makanan). Dan satu hal lagi yang saya dapatkan dan yang harus diperhatikan adalah tahap penerapan. Tidak semua teknik oversaturasi ini baik untuk diterapkan pada semua media. Jadi, perlu kompleksitas berfikir yang tinggi dalam berkarya dengan menggunakan sebuah teknik.

Dan masih banyak teknik ‘negatif’ yang saya temukan dan saya gunakan dalam karya-karya saya lainnya.

Selamat berkarya dan maju seniman Indonesia.

Pendidikan Bisnis, atau Bisnis Pendidikan?

Keluar masuk di beberapa perguruan tinggi sebagai staff pengajar yang ada di Denpasar, membuat saya terbuka akan dunia pendidikan.

Pendidikan bisnis atau bisnis pendidikan. Itulah tema yang saya angkat dalam tusian kali ini. Pendidikan bisnis adalah bagaimana kita dilatih untuk menguasai sebuah bidang yang namanya bisnis. Atau seringkali lebih akrab ditelinga kita apabila kita masuk kedalam sebuah perguruan tinggi kita melihat fakultas dengan jurusan bisnis atau ada lembaga-lembaga informal yang membuat pendidikan singkat tentang bisnis. Itulah arti dari pendidikan bisnis. Akan tetapi yang ingin saya soroti sebenarnya adalah kalimat Bisnis Pendidikan. Ini artinya ada sebagian orang yang ‘terpanggil’ untuk membuka sebuah bisnis yang bergerak dalam dunia pendidikan. Seperti adanya lembaga pelatihan berbagai jurusan dari Sekolah dasar sampai lembaga pendidikan professional (sebagai contoh sekolah foto dan desain, sekolah perawatan dan lain sebagainya.)

Sebenarnya tidak ada salah akan kedua pilihan ini, kalau keduanya dijalankan dengan proses yang baik dan dengan kualitas yang baik. Sehingga mahasiswa dapat terbentuk dengan baik. Akan tetapi secara fakta ada beberapa penyimpangan-penyimpangan yang saya jumpai di lapangan, yang tidak mendukung akan kualitas yang baik mengenai Bisnis Pendidikan ini.

Perbandingan staf pengajar dengan Mahasiswa (khusus mata kuliah praktikal)

Ketika awal saya berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Denpasar. Saya diajar oleh 3 dosen dan 1 asisten dosen. Dan pada waktu angkatan itu, jumlah mahasiswa aktif hanya sekitar 20-30/kelas ditambah sekitar 5-10 mahasiswa yang mengulang pada satu mata kuliah tersebut. Memang saya merasakan betapa sulitnya lulus pada 1 mata kuliah praktek. Akan tetapi saya merasakan pembentukan yang luar biasa dari sistem tersebut. Idealnya adalah 1 (dosen) berbanding 20 (mahasiswa) – 1 : 20 adalah batas maksimum jumlah mahasiswa di dalam 1 kelas. Pertanyaan yang timbul adalah: mengapa? Karena atensi ideal (memberi perhatian yang ideal) seorang dosen/staf pengajar hanya ‘kuat’ dalam batas ambang tersebut. Apabila diluar jumlah tersebut, maka dapat disangsikan dosen tersebut dapat memiliki kualitas yang baik (didalam maupun diluar kelas.) Memang tidak dapat dipungkiri, ada karunia Sang Pencipta yang khusus yang diberikan kepada beberapa orang, yang bisa ‘meng-handle’ lebih dari ambang batas. Akan tetapi dalam faktanya, sangat jarang sekali saya temukan dosen/staf pengajar yang memiliki kemampuan tersebut.

Alasan lembaga pendidikan kini adalah dari sisi bisnis. Kalau menggunakan sistem tersebut, maka disebut pemborosan. Akan tetapi celoteh tersebut saya bantah dengan fakta perbandingan, lembaga pendidikan tersebut menarik harga untuk seorang masahasiswa yang sangat tinggi dengan ‘harga’ dosen. Hati miris yang saya jumpai. Bisnis tidaklah haram, atau jelek atau hina. Tapi ketika bisnis dapat menurunkan kualitas pendidikan, apakah masih ditolerir? Kalau boleh saya mengambil sebuah tagline sebuah iklan produk, “Buat anak kok coba-coba!” lalu saya sedikit plesetkan, ”Buat anak kok dikasih yang hancur!”

Selamatkan dunia pendidikan, Indonesia.

Jangan tunda lagi. Sekaranglah! Kalau mau lihat Indonesia maju di masa depan!

Dilema Fotografer di Indonesia

Fotografi pranikah dan pernikahan, tidak dipungkiri lagi menjadi lahan subur bagi setiap orang yang ingin berbisnis. Belum lagi fotografi produk, fotografi fashion, fotografi arsitektur dan masih banyak lagi konsentrasi fotografi lainnya yang menjadi lahan subur. Ditambah lagi, sekarang ini mudahnya mendapatkan kamera. Dari yang paling murah sampai yang sangat mahal. Dari yang sederhana sampai pada fasilitas yang sangat canggih.

Bagi para fotografer yang berkecimpung sejak lama, kelebihan tumbuh makin banyaknya fotografer yang ada ialah sebuah tantangan untuk mencari ‘keterbedaan’ dan makin kuatnya pengetahuan serta daya eksplorasi yang lebih dalam. Bagi saya sendiri, ini menjadi suatu kesukaan tersendiri. Itu sebabnya, salah satu alasan saya masuk ke dalam dunia pendidikan (terutama fotografi). Alasan untuk menantang situasi dan kondisi yang berlangsung sekarang ini. Sehingga saya semakin kuat. Selain itu, saya juga dapat belajar dari fotografer-fotografer yang baru berkembang. Saya tidak mau menyepelekan para fotografer baru. Karena dari mereka, saya dapat banyak belajar tentang hal-hal baru.

Akan tetapi bagi para pengguna jasa fotografi, timbulnya situasi dilema atau ada 2 pemikiran yakni pemikiran yang melegakan hati sekaligus pemikiran yang sedikit membuat bingung, karena begitu banyak fotografer yang menawarkan gambar bagus, terutama pada portofolio mereka.

Hal yang melegakannya jelas dalam bidang bisnis, semakin banyak fotografer, semakin variatifnya harga yang ditawarkan. Dan ini bisa disesuaikan dengan budget yang ada.

Untuk hal kebingungan ini saya memiliki saran tersendiri. Yang pertama adalah cari latarbelakang atau jejak rekam professional mereka. Darwis Triadi memang dahulu adalah seorang pilot, akan tetapi dia (pada zamannya) berjuang keras untuk mendalami dunia ini dengan sangat baik. Dan beliau tidak serta merta secara instan belajar. Kalau lihat pada zaman dia memulai, kamera digital (seperti sekarang ini) sangat langka dan mahal. Artinya Jejak rekam seorang fotografer haruslah dipandang secara detail oleh para calon pengguna jasa.

Yang kedua, saran saya mintalah portofolio mereka. Akan tetapi jangan ‘terlalu’ terpaku atau terpukau dengan portfolio yang ditunjukkan. Karena yang namanya orang jualan, pasti mereka akan menampilkan yang terbaik kepada klien. Lalu ditiap portfolio, tanyakan detailnya. Sebagai contoh ketika dia mengambil foto tersebut apakah dia sebagai leader atau secondary photographer. Ini menjadi sangat penting, karena fotografer professional memiliki kemampuan memimpin (minimal memimpin dirinya sendiri selain anggota tim lainnya).

Dan satu lagi yang sering sekali ‘dilupakan’ oleh para calon pengguna jasa yakni portofolio idealis. Satu sisi sering kali karya idealis ‘disampingkan’ padahal karya ini sangat penting untuk mengetahui seberapa kuat imajinasi seorang fotografer. Memang ada hal dimana fotografi komersil dan fotografi idealis itu berbeda jauh, yakni dari sudut keinginan. Mengapa karya idealis perlu? Karena di sana selain imajinasi, juga dapat dilihat penguasaan teknik dan keterbedaan bertindak dari seorang fotografer/seniman. Di sini akan ‘tersaring’ atau akan diketahui apakah fotografer itu seorang yang berlatar belakang sangat kuat atau hanya instan.

Harga sulit (tidak) dapat membohongi kualitas. Sekarang ini jarang orang berkualitas (secara hasil foto dan berpengalaman) menetapkan harga ‘di bawah’ standar kecuali ada deal tertentu (alasan di luar professional) antara fotografer dan pengguna jasa. Mungkin hal ini bisa dijadikan patokan juga dalam menentukan siapa fotografer yang akan pengguna jasa pakai.

Kiranya ini dapat sedikit membantu dalam memecahkan masalah yang timbul pada calon pengguna jasa fotografi yang dating dan bertanya kepada saya.

Maju Indonesia!

Pentingnya Pemasaran Visual dan Permasalahannya

Pemasaran visual sudah sangat lama dilakukan oleh perusahaan komersial. Namun kami membahas sebagian mengenai hal tersebut. Sebelumnya, kami menjelaskan bahwa fungsi utama dari pemasaran selain memperkenalkan produk, juga mempertahankan hubungan dengan klien atau kolega. Di zaman sekarang, media sosial menjadi salah satu platform visual yang telah dinikmati banyak orang, setelah dan bahkan menggantikan televisi, majalah dan koran. Mengenai hubungannya dengan ‘pemasaran visual,’ saya ingin membahas sebuah pertanyaan : mengapa pemasaran visual?

Media visual lebih mudah masuk ke pikiran seseorang. Tetapi bukan berarti teks tidak penting. Keduanya dapat saling melengkapi.

Seseorang akan termotivasi dengan penampilan yang menarik dari sebuah penampilan produk yang menarik.

Perlu diketahui juga bahwa marketing dan sales terlihat sama namun berbeda fungsinya. Marketing seperti yang dijelaskan tadi, mempertahankan hubungan dengan klien dan kolega, sementara bagian penjualan (salesperson) menjual, mendistribusikan dan berusaha meningkatkan penjualan.

 

Mari kita lihat contoh, di mana bagian pemasaran dan penjualan memperlakukan sebuah gambar dengan berbeda :

Dan bagaimana jika keduanya digabungkan?

Terlihat pesan pemasaran “We use the natural ingredients” (kami menggunakan bahan alami) dan “Get 20% off!” (dapatkan diskon 20 persen) dijadikan satu tanpa mengurangi satu sama lainnya.

Media sosial memang sudah dimanfaatkan industri mikro sampai raksasa multinasional untuk memperkenalkan apa saja yang mereka tawarkan pada masyarakat umum, karena selain menggunakan biaya dan tenaga pemasaran lebih sedikit, target pasar yang tersedia di sana cukup banyak dan beragam. Anda cukup mempekerjakan beberapa orang untuk menangani media sosial, menyiapkan materi teks dan visual, kemudian menyebarkannya kepada target pasar atau pengikut halaman atau akun dalam hitungan detik, bahkan bila perlu, ke seluruh pengguna media sosial di dunia. Tetapi, pemasaran dengan media cetak/fisik seperti pada kartu nama atau brosur juga mempunyai kelebihan, yaitu pengguna dapat merasakan bentuk fisik alat pemasaran kita.

Namun di sisi lain, pembuatan konten visual yang menarik membutuhkan setidaknya tiga peran :

  • Marketer, yang menganalisis pasar namun belum menangani visual.
  • Pengarah seni, yang menerjemahkan hasil analisis marketer menjadi konsep visual.
  • Desainer, yang mengerjakan konten visual yang sudah dikonsepkan oleh Pengarah Seni.

Selain butuh kombinasi tepat untuk posisi di atas, juga dibutuhkan biaya untuk setidaknya tiga orang dalam pengerjaannya. Dan kami juga sering menemui seorang desainer yang dapat membuat visual yang bagus, namun kurang mempunyai kecakapan untuk membuat visual yang cocok pada target pasar tertentu. Jika dihitung secara finansial, hal ini tidak menguntungkan dikarenakan karakteristik yang unik dan berbeda di tiap target pasar.

Dan sebelum mengakhiri tulisan pendek ini, kami memberikan beberapa fakta yang tidak terlalu menyenangkan yang kami temui soal pemasaran visual :

  1. Penggerak media sosial banyak yang tidak menyadari bagiannya, atau kurang tahu tentang marketing, terutama pemasaran digital. Mereka hanya dapat ‘bermain’ media sosial, sehingga target pasar tidak tersentuh.
  2. Pencitraan perusahaan atau alat pemasarannya tidak cocok untuk target pasar yang dituju. Hal ini merusak citra perusahaan.
  3. Penggerak media sosial hanya mengunggah dan mengunduh materi pemasaran tanpa melihat rincian pasar.
  4. Pergerakan pasar berjalan terus, bahkan tidak dapat ditebak. Karena itu, diperlukan analisis mendalam dan tanggapan yang tepat terhadap pasar tersebut.
  5. Desainer grafis dan staf marketing sering ‘terkurung’ dalam pekerjaannya sehingga pengetahuan pasarnya terbatas pada pengumpulan data, analisis dan cara menanggapinya.

Tujuan pemasaran visual adalah untuk membangun citra perusahaan maupun produknya. Apakah Anda hanya ingin mempunyai citra yang biasa saja? Atau ingin citra usaha Anda meningkat?

Yang paling penting adalah citra tersebut harus sesuai dengan barang atau jasa yang Anda tawarkan.


 

Mengapa kami mengambil pemasaran media sosial? Pertama, mempunyai kemampuan membaca, menganalisis pasar dan mengeksekusi visual branding yang cocok untuk target pasar. Kedua, media sosial idealnya dimainkan aktif setiap hari untuk terus menyentuh pasar. Dan yang ketiga, setiap target pasar mempunyai cirinya masing-masing dan berubah setiap waktu, karena itu harus dipantau tiap harinya. Tren media sosial yang cukup mengkhawatirkan adalah pengikut bayaran, sehingga jumlah tersebut semu. Inilah alasan jumlah pengikut atau orang yang suka pada konten Anda bukan tolak ukur kami, tetapi seberapa kuat merebut perhatian di media sosial dan Internet.

Selain itu, biaya yang kami tawarkan setara satu atau dua orang pekerja. Kami akan memainkan media sosial Anda, dan membentuk kelas yang cocok dengan target pasar yang dituju, juga kami membuat kalender kerja ucapan selamat dalam setahun. Yang terakhir dan terpenting, kami mempunyai pengalaman di bidang komunikasi visual dan branding.