Dilema Fotografer di Indonesia

Fotografi pranikah dan pernikahan, tidak dipungkiri lagi menjadi lahan subur bagi setiap orang yang ingin berbisnis. Belum lagi fotografi produk, fotografi fashion, fotografi arsitektur dan masih banyak lagi konsentrasi fotografi lainnya yang menjadi lahan subur. Ditambah lagi, sekarang ini mudahnya mendapatkan kamera. Dari yang paling murah sampai yang sangat mahal. Dari yang sederhana sampai pada fasilitas yang sangat canggih.

Bagi para fotografer yang berkecimpung sejak lama, kelebihan tumbuh makin banyaknya fotografer yang ada ialah sebuah tantangan untuk mencari ‘keterbedaan’ dan makin kuatnya pengetahuan serta daya eksplorasi yang lebih dalam. Bagi saya sendiri, ini menjadi suatu kesukaan tersendiri. Itu sebabnya, salah satu alasan saya masuk ke dalam dunia pendidikan (terutama fotografi). Alasan untuk menantang situasi dan kondisi yang berlangsung sekarang ini. Sehingga saya semakin kuat. Selain itu, saya juga dapat belajar dari fotografer-fotografer yang baru berkembang. Saya tidak mau menyepelekan para fotografer baru. Karena dari mereka, saya dapat banyak belajar tentang hal-hal baru.

Akan tetapi bagi para pengguna jasa fotografi, timbulnya situasi dilema atau ada 2 pemikiran yakni pemikiran yang melegakan hati sekaligus pemikiran yang sedikit membuat bingung, karena begitu banyak fotografer yang menawarkan gambar bagus, terutama pada portofolio mereka.

Hal yang melegakannya jelas dalam bidang bisnis, semakin banyak fotografer, semakin variatifnya harga yang ditawarkan. Dan ini bisa disesuaikan dengan budget yang ada.

Untuk hal kebingungan ini saya memiliki saran tersendiri. Yang pertama adalah cari latarbelakang atau jejak rekam professional mereka. Darwis Triadi memang dahulu adalah seorang pilot, akan tetapi dia (pada zamannya) berjuang keras untuk mendalami dunia ini dengan sangat baik. Dan beliau tidak serta merta secara instan belajar. Kalau lihat pada zaman dia memulai, kamera digital (seperti sekarang ini) sangat langka dan mahal. Artinya Jejak rekam seorang fotografer haruslah dipandang secara detail oleh para calon pengguna jasa.

Yang kedua, saran saya mintalah portofolio mereka. Akan tetapi jangan ‘terlalu’ terpaku atau terpukau dengan portfolio yang ditunjukkan. Karena yang namanya orang jualan, pasti mereka akan menampilkan yang terbaik kepada klien. Lalu ditiap portfolio, tanyakan detailnya. Sebagai contoh ketika dia mengambil foto tersebut apakah dia sebagai leader atau secondary photographer. Ini menjadi sangat penting, karena fotografer professional memiliki kemampuan memimpin (minimal memimpin dirinya sendiri selain anggota tim lainnya).

Dan satu lagi yang sering sekali ‘dilupakan’ oleh para calon pengguna jasa yakni portofolio idealis. Satu sisi sering kali karya idealis ‘disampingkan’ padahal karya ini sangat penting untuk mengetahui seberapa kuat imajinasi seorang fotografer. Memang ada hal dimana fotografi komersil dan fotografi idealis itu berbeda jauh, yakni dari sudut keinginan. Mengapa karya idealis perlu? Karena di sana selain imajinasi, juga dapat dilihat penguasaan teknik dan keterbedaan bertindak dari seorang fotografer/seniman. Di sini akan ‘tersaring’ atau akan diketahui apakah fotografer itu seorang yang berlatar belakang sangat kuat atau hanya instan.

Harga sulit (tidak) dapat membohongi kualitas. Sekarang ini jarang orang berkualitas (secara hasil foto dan berpengalaman) menetapkan harga ‘di bawah’ standar kecuali ada deal tertentu (alasan di luar professional) antara fotografer dan pengguna jasa. Mungkin hal ini bisa dijadikan patokan juga dalam menentukan siapa fotografer yang akan pengguna jasa pakai.

Kiranya ini dapat sedikit membantu dalam memecahkan masalah yang timbul pada calon pengguna jasa fotografi yang dating dan bertanya kepada saya.

Maju Indonesia!

Pentingnya Pemasaran Visual dan Permasalahannya

Pemasaran visual sudah sangat lama dilakukan oleh perusahaan komersial. Namun kami membahas sebagian mengenai hal tersebut. Sebelumnya, kami menjelaskan bahwa fungsi utama dari pemasaran selain memperkenalkan produk, juga mempertahankan hubungan dengan klien atau kolega. Di zaman sekarang, media sosial menjadi salah satu platform visual yang telah dinikmati banyak orang, setelah dan bahkan menggantikan televisi, majalah dan koran. Mengenai hubungannya dengan ‘pemasaran visual,’ saya ingin membahas sebuah pertanyaan : mengapa pemasaran visual?

Media visual lebih mudah masuk ke pikiran seseorang. Tetapi bukan berarti teks tidak penting. Keduanya dapat saling melengkapi.

Seseorang akan termotivasi dengan penampilan yang menarik dari sebuah penampilan produk yang menarik.

Perlu diketahui juga bahwa marketing dan sales terlihat sama namun berbeda fungsinya. Marketing seperti yang dijelaskan tadi, mempertahankan hubungan dengan klien dan kolega, sementara bagian penjualan (salesperson) menjual, mendistribusikan dan berusaha meningkatkan penjualan.

 

Mari kita lihat contoh, di mana bagian pemasaran dan penjualan memperlakukan sebuah gambar dengan berbeda :

Dan bagaimana jika keduanya digabungkan?

Terlihat pesan pemasaran “We use the natural ingredients” (kami menggunakan bahan alami) dan “Get 20% off!” (dapatkan diskon 20 persen) dijadikan satu tanpa mengurangi satu sama lainnya.

Media sosial memang sudah dimanfaatkan industri mikro sampai raksasa multinasional untuk memperkenalkan apa saja yang mereka tawarkan pada masyarakat umum, karena selain menggunakan biaya dan tenaga pemasaran lebih sedikit, target pasar yang tersedia di sana cukup banyak dan beragam. Anda cukup mempekerjakan beberapa orang untuk menangani media sosial, menyiapkan materi teks dan visual, kemudian menyebarkannya kepada target pasar atau pengikut halaman atau akun dalam hitungan detik, bahkan bila perlu, ke seluruh pengguna media sosial di dunia. Tetapi, pemasaran dengan media cetak/fisik seperti pada kartu nama atau brosur juga mempunyai kelebihan, yaitu pengguna dapat merasakan bentuk fisik alat pemasaran kita.

Namun di sisi lain, pembuatan konten visual yang menarik membutuhkan setidaknya tiga peran :

  • Marketer, yang menganalisis pasar namun belum menangani visual.
  • Pengarah seni, yang menerjemahkan hasil analisis marketer menjadi konsep visual.
  • Desainer, yang mengerjakan konten visual yang sudah dikonsepkan oleh Pengarah Seni.

Selain butuh kombinasi tepat untuk posisi di atas, juga dibutuhkan biaya untuk setidaknya tiga orang dalam pengerjaannya. Dan kami juga sering menemui seorang desainer yang dapat membuat visual yang bagus, namun kurang mempunyai kecakapan untuk membuat visual yang cocok pada target pasar tertentu. Jika dihitung secara finansial, hal ini tidak menguntungkan dikarenakan karakteristik yang unik dan berbeda di tiap target pasar.

Dan sebelum mengakhiri tulisan pendek ini, kami memberikan beberapa fakta yang tidak terlalu menyenangkan yang kami temui soal pemasaran visual :

  1. Penggerak media sosial banyak yang tidak menyadari bagiannya, atau kurang tahu tentang marketing, terutama pemasaran digital. Mereka hanya dapat ‘bermain’ media sosial, sehingga target pasar tidak tersentuh.
  2. Pencitraan perusahaan atau alat pemasarannya tidak cocok untuk target pasar yang dituju. Hal ini merusak citra perusahaan.
  3. Penggerak media sosial hanya mengunggah dan mengunduh materi pemasaran tanpa melihat rincian pasar.
  4. Pergerakan pasar berjalan terus, bahkan tidak dapat ditebak. Karena itu, diperlukan analisis mendalam dan tanggapan yang tepat terhadap pasar tersebut.
  5. Desainer grafis dan staf marketing sering ‘terkurung’ dalam pekerjaannya sehingga pengetahuan pasarnya terbatas pada pengumpulan data, analisis dan cara menanggapinya.

Tujuan pemasaran visual adalah untuk membangun citra perusahaan maupun produknya. Apakah Anda hanya ingin mempunyai citra yang biasa saja? Atau ingin citra usaha Anda meningkat?

Yang paling penting adalah citra tersebut harus sesuai dengan barang atau jasa yang Anda tawarkan.


 

Mengapa kami mengambil pemasaran media sosial? Pertama, mempunyai kemampuan membaca, menganalisis pasar dan mengeksekusi visual branding yang cocok untuk target pasar. Kedua, media sosial idealnya dimainkan aktif setiap hari untuk terus menyentuh pasar. Dan yang ketiga, setiap target pasar mempunyai cirinya masing-masing dan berubah setiap waktu, karena itu harus dipantau tiap harinya. Tren media sosial yang cukup mengkhawatirkan adalah pengikut bayaran, sehingga jumlah tersebut semu. Inilah alasan jumlah pengikut atau orang yang suka pada konten Anda bukan tolak ukur kami, tetapi seberapa kuat merebut perhatian di media sosial dan Internet.

Selain itu, biaya yang kami tawarkan setara satu atau dua orang pekerja. Kami akan memainkan media sosial Anda, dan membentuk kelas yang cocok dengan target pasar yang dituju, juga kami membuat kalender kerja ucapan selamat dalam setahun. Yang terakhir dan terpenting, kami mempunyai pengalaman di bidang komunikasi visual dan branding.