Social Media Usage

Mengapa Bisnis Harus Menggunakan Jejaring Visualisasi

Beberapa tahun lalu di Indonesia, jejaring visual seperti Instagram dan Pinterest tidak banyak digunakan oleh banyak perusahaan-perusahaan. Instagram dan Pinterest kebanyakan digunakan oleh pribadi atau ajang promosi perusahaan yang berkaitan langsung seperti perusahaan jasa fotografi, videografi dan beberapa perusahaan yang terkait lain. Akan tetapi ternyata penyataan Sharad Verma (CEO Piqora) mengatakan hal yang berbeda. Seharusnya perusahaan-perusahaan menggunakan situs-situs ini sebagai jembatan promosi. Saya membaca dengan teliti tulisan atau bedahan Sharad Verma lalu saya mencoba menganalisis dan membuktikan lewat fakta-fakta yang terjadi.

Ternyata, apa yang diungkapkan oleh Sharad Verma memang kuat.

Alasan pertama adalah dasar jaringan atau komunitas. Kita tidak dapat memungkiri bahwa komunitas pencinta image atau gambar (gambar bisa berupa foto, sketsa tangan/ilustrasi dan seni gambar lainnya) sangat banyak sekali. Sehingga jejaring ini bisa digunakan untuk melakukan ‘brand activity’. Apalagi baru-baru ini ditemukan fakta bahwa orang pelihat gambar dan belajar dari gambar sangat tinggi sekali. Sebenarnya, kebanyakan orang salah mengartikan (saya temukan di Indonesia) bahwa media sosial untuk membuat jaringan hanya Facebook dan Twitter. Akan tetapi, Instagram dan Pinterest juga media jejaring sosial, hanya saja Instagram dan Pinterest menggunakan gambar sebagai basis utamanya.

Alasan kedua adalah visualisasi dapat menjadi pembentuk citra sebuah perusahaan. Citra berkelas tinggi bisa ‘membawa’ perusahaan tersebut kepada kelas atas juga. Masih ingat di pikiran saya ketika melihat iklan sebuah merek alat-alat kantor. Dahulu dalam iklannya, mereka menggunakan model orang-orang kantor yang gagah, bersih dan rapi (untuk pria) dan wanita kantor yang elegan dengan jas dan senyuman yang manis dalam menyampaikan pesan. Akan tetapi kini perusahaan tersebut menggunakan gambar-gambar hasil dari alat tulis mereka sebagai penyampaian pesan. Mungkin sebagian kita akan berfikir, ”Iya jelas karena perusahaan itu masih sangat dekat kaitannya dengan gambar-menggambar.” Saya melihat fakta kini beberapa perusahaan lain seperti perusahaan otomotif pun menggunakan fasilitas gambar (dalam kasus ini gambar dalam bentuk foto dan sketsa). Dan, ada fakta yang sedikit mengejutkan saya adalah ketika saya menemukan beberapa hotel (lewat seorang fotografer) menggunakan Instagram dan Pinterest sebagai ajang promosi. Lalu saya bertanya apa impact-nya ? Ternyata para likers (sebutan penyuka foto untuk Instagram) menanyakan alamat hotel dan bahkan mereka berjanji untuk datang ke tempat tersebut. Ini saya buktikan sendiri, lewat akun Instagram saya.

Kurang lebih baru bulan April 2013 ini saya ‘bermain’ Instagram kembali, akan tetapi dampak seperti yang hotel itu rasakan, juga saya rasakan. Ada beberapa orang yang bertanya tentang lokasi foto saya (semua foto saya ambil di Indonesia) dan bahkan berjanji apabila ke Indonesia akan ke tempat tersebut.

Maka saya menyimpulkan bahwa tren gambar sekarang ini telah meningkat pesat. Itu sebabnya kepada beberapa pemimpin perusahaan terutama teman dekat saya, untuk desain ulang image atau memperbarui brand image-nya. Akan tetapi dalam mengubah image, haruslah hati-hati karena bisa jadi justru itu menjadi blunder (dalam permainan sepak bola, kata itu berarti kesalahan sendiri). Butuh data dan telaah/analisis yang jauh lebih dalam.

Cara agar tidak terjadi kesalahan sendiri, adalah :

  1. Kumpulkan data fakta sebanyak-banyaknya (dan selengkap-lengkapnya,)
  2. Analisis data tersebut dengan saksama,
  3. Percayakan orang yang berpengalaman dalam membuat atau membangun image; Diskusikan dengan bagian marketing perusahaan anda, atau supervisi market harus dilakukan oleh orang dalam/marketing,
  4. Buatlah hasil sementara,
  5. Lalu lemparkan hasil percobaan ke market yang cakupannya kecil. Analisis hasil sementara, tetapi harus berbanding dengan jumlah market.
  6. Kita akan mengetahui dari hasil analisis. Apabila terjadi ketidak-tepatan market, bukanlah masalah besar; justru itu menjadi masukan anda dalam menganalisa kembali. Ulangi langkah pertama sampai 5, akan tetapi dengan market kecil yang berbeda.
  7. Teruskanlah mencoba sampai market ‘terkena’. Di sinilah kemampuan ‘meracik’ ramuan marketing diuji.

Sekian tulisan dulu penjelasan saya kali ini. Akan tetapi saya hanya bisa mengusulkan, selebihnya terserah anda.

Visualisasi berperan membentuk citra sebuah perusahaan. Citra berkelas tinggi bisa membawa perusahaan tersebut kepada kelas atas juga.

Kajian Dasar Seni dan Desain: Touch The Feeling

Saya ingat dengan jelas ketika saya masih dalam proses awal belajar fotografi, begitu banyak teman-teman yang memberi masukan kepada saya. Rasa terimakasih saya tidak pernah terlupakan dan selalu menggema di telinga dan hati saya. Sebagai ucapan terimakasih, saya ingin memberi masukan kepada calon fotografer masa kini lewat tulisan ini. Masukkan yang dihasilkan dari telaah fotografi (data yang berdasar fakta) serta pencarian dari beberapa literatur yang saya dapatkan dari beberapa kampus yang ada di Indonesia.

Kali ini saya ingin memberi masukan mengenai dasar seorang fotografer dapat ‘menampilkan’ sebuah karya. Dalam buku Perception and Imaging karya Richard D. Zakia halaman 208, ada 3 asal muasal bagaimana fotografer dalam menampilkan sebuah karya. Saya tidak ingin membedah ketiganya secara sekaligus, akan tetapi satu per satu. Supaya dapat memudahkan calon fotografer dalam proses pembelajaran awal.

Asal muasal yang pertama adalah projection.

Ada seorang teman saya, yang tidak memiliki background seni ataupun desain (secara formal). Akan tetapi, ketika dia membeli sebuah kamera lalu berlatih secara terus menerus (secara otodidak) membuat dia mencapai sebuah puncak dari pembelajarannya. Sensivitasnya terhadap sebuah obyek sangat tinggi. Ketika dia melihat sesuatu obyek yang mungkin orang lain menganggapnya ‘biasa’, justru dia menganggapnya bahwa benda itu dapat dibedah sehingga dapat menghasilkan suatu foto yang luarbiasa. Fenomena ini saya perhatikan dengan seksama tanpa banyak berkata.

Lalu saya tertarik untuk ‘mendalami proses’ dan berusaha ‘menguji’ kemampuannya. Saya mencoba untuk mengajak dia untuk hunting bareng. Akan tetapi, saya ‘mempersilahkan’ dia untuk memimpin hunting tersebut. Seperti yang saya jelaskan pada kalimat sebelumnya, dia memilih beberapa obyek yang sama sekali tidak saya pikirkan itu akan menjadi sebuah hasil karya yang baik. Semakin saya tertarik ingin ‘mengikuti’ langkah-langkahnya. Lalu setelah selesai proses capturing, kami berkumpul di suatu tempat yang nyaman untuk proses picking. Ada lebih dari 100 frame foto yang saya perlihatkan kepadanya (foto standar yang belum diolah sehingga tingkat kemiripan satu dengan yang lainnya sangat tinggi bahkan bisa dikatakan mendekati sama), lalu saya meminta bantuan untuk memilihkan untuk saya. Alhasil, teman saya ini yang tidak mempunyai background formal di bidang seni (hanya pengalaman otodidak), dapat menentukan 10 frame foto dari 100 frame foto (bahkan lebih) mendekati 100 % sama dengan pilihan saya yang didasari oleh teorikal seni.

Yang dimaksud dengan projection adalah seorang fotografer dapat merasakan sebelum terjadi proses capturing sehingga obyek tersebut dapat ‘menonjol’. Ada 2 hal yang saya dapatkan dari peristiwa ini. Yang pertama fotografer tersebut memang diberikan anugrah/karunia langsung oleh Sang Pencipta. Dan yang kedua adalah pembelajaran (penggalian potensi diri). Poin yang kedua inilah yang ingin saya jelaskan bagaimana cara belajar dalam menangkap sebuah obyek sehingga kepekaan kita terhadap obyek sangat tinggi. Kunci awal dari pembelajaran ini adalah mendalami MORPHIC. Morphic dalam bahasa Yunani adalah Morphos yang berarti bentuk (form dalam bahasa Inggris). Selama saya hidup, saya telah menjumpai ada 6 jenis morphic yang ada di cakrawala yakni Isomorphic (kemiripan bentuk), Antropomorphic (bentuk manusia), Zoomorphic (bentuk binatang), Theriomorphic (bentuk menakutkan), Mechanomorphic (bentuk mekanik), Anamorphic (lebih dikenal dengan bentuk distorsi atau penghancuran). Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas secara detail keenam bentuk tersebut, ini dikarenakan sangat panjangnya bahasan tersebut dan sangat rumit. Akan tetapi dari ‘pembedahaan awal’ ini, saya berharap kepada calon desainer dan fotografer dapat ‘mengembangkan’ pengetahuan ini lebih dalam lagi. Sehingga yang nantinya dapat melatih diri dengan baik, dalam ‘menterjemahkan’ sebuah obyek kedalam sebuah karya.

Maju desain dan fotografi terapan Indonesia.
Maju Indonesia.

Perhatikan morphic, itu membentuk feeling dalam karya foto Anda.

Esensi Penggunaan Jejaring Sosial

Memang di Indonesia masih sedikit orang yang menggunakan sosial media sebagai ujung tombak perusahaan jasa atau produk menjangkau dunia. Akan tetapi di negara-negara besar seperti Amerika dan Eropa bahkan sudah membuka sekolah atau jurusan social media marketing. Tapi memang tidak banyak pemimpin perusahaan yang kurang percaya kepada karyawannya ketika membuka situs-situs media sosial seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Kekurang-percayaan itu memang memiliki landasan yang kuat yakni banyak karyawan yang apabila ‘dibebaskan’ untuk browsing atau berselancar di media sosial hanya menggunakan kepuasan pribadinya semata. Sebagai contoh beberapa orang yang hanya meng-upload/mengunggah makanan siang dan sarapan paginya atau mengunggah foto acara kumpul-kumpul bersama dan masih banyak lagi. Ketidakbertanggungjawaban karyawan menjadi benalu dalam perusahaan. Memang salahsatu ‘ketidakpercayaan’ dunia luar kepada pekerja Indonesia adalah masalah moral. Sebenarnya media social sangat baik dan penting sekali apabila digunakan dengan bertanggungjawab dan baik. Sebagai contoh sebagai ajang promosi perusahaan kepada teman-teman atau sebagai parameter brand activity perusahaan. Pisau digunakan untuk memotong bahan-bahan dapur, tapi pisau digunakan menjadi sesuatu yang mengerikan oleh orang-orang yang lepas control. Memang semua pada akhirnya tergantung dari manusianya. Secara garis besar, masyarakat Indonesia masih belum bisa memisahkan mana yang bersifat pribadi dan mana yang merupakan tanggungjawab. Apabila semua itu dapat digunakan dengan baik, niscaya perusahaan akan berkembang atau bahkan Negara juga akan berkembang. Itu sebabnya memang citra Indonesia sebagai negara dengan pemeluk agama terbesar sedang dipertaruhkan. Agama menjadi hal yang ‘lepas’ dari moralitas. Seharusnya pendidikan moral ada pada setiap agama. Akan tetapi mengapa kekerasan, pemaksaan kepercayaan, pembakaran atau pelarangan rumah Ibadat masih terjadi ? Hanya diri kita yang mampu menjawabnya dan memperbaikinya.
Salam Indonesiaku.
Tri Rismaharini

General Affairs Forum

General Affairs Forum (GAF) 2018 adalah General Affairs Forum ketiga yang diselenggarakan oleh SKK Migas dan PAMFI. Acara ini berlangsung di Inaya Putri Bali, Nusa Dua, Bali pada 30-31 Agustus 2018, dan ini adalah GAF pertama yang melibatkan industri di luar industri minyak dan gas, seperti Bank Mandiri dan Garuda Indonesia. Bertemakan “Breakthrough through Synergy,” acara ini melibatkan pembicara dari berbagai pihak, termasuk Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) and Krishna Murti (Kepala Biro Misi Internasional DIVHUBINTER Polri.) Kami dipercayakan oleh SKK Migas sebagai salah satu tim dokumentasi utama di acara ini.

[metaslider title=”GAF2018 (ID)”]
A man cycling on the street, daytime

Marketplace Semakin Ramai

Menyegarkan pikiran dengan menyusuri jalan-jalan di kota Denpasar adalah salah satu kegemaran saya setelah berlama-lama di dalam ruang kerja. Melihat begitu banyak tempat penjualan atau bisnis yang ada di sisi kiri dan kanan jalan. Akan tetapi, ketika berada di salah satu jalan, tepatnya di Jalan Teuku Umar, ada hal yang terlintas di benak saya : begitu banyaknya bidang iklan maupun tanda/sign sepanjang jalan tersebut. Bahkan ada satu toko yang memasang iklan lebih dari tiga dan berukuran besar.

Tidak ada hal yang yang membatasi untuk tindakan tersebut. Artinya, si pemilik toko berhak atas tindakan-tindakan tersebut. Akan tetapi saya rindu memberi sedikit masukan untuk dijadikan pemikiran para pebisnis, dan apabila masukan ini tidak menjadi bahan untuk perubahan (karena ada faktor lain), itupun tidak masalah. Salah satu masukan tersebut adalah keterbedaan. Ada beberapa tutor bisnis yang menyarankan kepada saya, ”Kalau ingin membuka sebuah usaha, carilah sesuatu yang berbeda.” Prinsip itu juga yang menjadi pemikiran dalam membuat bentuk iklan atau bentuk sign/tanda atau bahkan sistem marketing yang berbeda. Ini berfungsi agar orang melihat keterbedaan itu menjadi sebuah ketertarikan. Lalu pertanyaan lanjutan yang sering terlontar dari beberapa orang, ketika diskusi itu berlangsung, “Apakah contoh dari keterbedaan tersebut?”

Ada beberapa keterbedaan yang telah saya temukan di sekeliling saya.

Mungkin apabila kita berjalan di Jakarta atau kota besar lainnya, keterbedaan ini sudah menjadi suatu pemandangan yang tidak asing lagi. Akan tetapi belum banyak digunakan di kota-kota lainnya seperti Denpasar, Kupang dan kota-kota lain (terutama di luar Pulau Jawa). Adapun contoh dari keterbedaan tersebut dalam marketing tools, antara lain adalah :

Pengulangan (iklan yang diulang dalam sebuah area)

Ini berfungsi sebagai pembentuk irama di pikiran/otak. Irama yang berulang-ulang membentuk opini di otak orang yang melihatnya agar terus dapat mengingatnya. Sebagai contoh pada foto ini. Ada kata nyeleneh yang beberapa kali terdengar di telinga saya, ”Yang besar belum tentu menarik! Belum tahu dia, yang kecil bisa nendang”

Digital (visual technology)

Di Singapura terdapat membuat air mancur dari teknologi animasi 3 dimensi, seakan-akan air terjun tersebut asli tapi menariknya adalah air mancur itu bisa berwarna-warni. Contoh dari Negara Singapura ini bisa dijadikan contoh bahwa digital sign ini bisa menjadi salahsatu juga bentuk keterbedaan. Kalau di beberapa kota besar di Amerika seperti New York, Chicago dan lainnya, teknologi digital ini sudah lazim digunakan.

Materi isi (tokoh/karakter, alur, tagline, teknik visual dan lainnya)

Masih teringat dalam ingatan bahwa begitu banyak iklan yang dapat tertanam di benak para pemirsa seperti “I like Monday” (‘Aku suka [hari] Senin,’ lahir dari sebuah situasi dan budaya yang tidak menyukai hari Senin,) lalu tagline “Asiknya rame-rame” dan masih banyak hal lainnya yang dapat menarik penikmat sebuah iklan

Dan masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya. Dan itu membutuhkan pemikiran yang rumit dalam mewujudkannya, tapi bukan hal mustahil!
Selamat berkarya !

Keterbedaan berarti ketertarikan.

fd020fc1-35a3-45eb-9bd2-6126882a41a6

Sebuah Kritik Kehidupan dalam Perkembangan Desain Modern

Pada awal tahun 2011, kurang lebih 2 minggu lebih saya berada di tempat kelahiran saya, Jakarta. Kurang lebih 15 tahun saya meninggalkan secara aktif kehidupan besar kota Jakarta untuk menuntut ilmu sekaligus bekerja di Pulau Dewata, Bali. Meski tidak menentu, dapat diperkirakan 1 sampai 2 kali dalam setahun, saya menjenguk keluarga yang berada di Jakarta. Salah satu kemajuan kota Jakarta yang menjadi kebanggaan saya adalah alat transformasi rakyat yakni Busway. Meski masih menuai kritik dari beberapa kalangan, akan tetapi tidak adil bagi saya untuk tidak memuji ide dan kerja keras beberapa orang tentang usaha tersebut untuk mengurangi masalah yang ada di kota Jakarta. Bagi saya, tidak adil bagi para pencetus ide dan pekerja keras yang hanya bisa dikritik tapi tidak memberikan solusi yang konkret bagi kemajuan bersama. Semakin berkembangnya pola pikir yang ada pada masyarakat sekarang, hanya digunakan sebagai kritikus tapi tidak langsung membantu ikut serta dalam memecahkan masalah tersebut. Dengan dalih dari beberapa pribadi dan golongan, “Kan lewat kritik kami ini, kami juga ikut ambil bagian dalam perkembangan kota!”

Bagi saya, memang itu membantu dan tidak salah akan hal itu, akan tetapi kadang kita melupakan sesuatu yakni kita mampu juga untuk melakukan kritik kita sendiri meski itu hanya berkekuatan ‘kecil’.

Sebagai contoh, kita terus berteriak Jakarta banjir setiap tahunnya, tapi kita sendiri membuang sampah sembarangan. Baik di jalan sampai di sungai. Go green hanya sebuah simbol yang tidak disadari secara mendasar dari setiap pribadi bahwa bumi ini adalah titipan anak cucu kita dan kita harus menjaganya.

Memang menyeramkan ketika saya menganalisa sebuah tulisan tentang kritik tentang pekembangan desain zaman modern. Dimana pada zaman modern, industri kimia dan bahan sintetik berkembang pesat. Penggunaannya berkembang ke segala bidang. Sebagai contoh plastik untuk produk konsumsi, bahan kimia untuk kebutuhan rumah tangga. Memang penemuan-penemuan alat maupun bahan tersebut membantu manusia. Akan tetapi, ternyata penemuan-penemuan tersebut juga memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam mempercepat ‘penghancuran’ bumi ini. Maka pada dekade 60-an, terjadilah kesadaran pada masyarakat akan pemeliharaan dan perbaikan pola pikir. Gerakan kesadaran ini dikenal dengan Revolusi Hijau. Revolusi ini diawali oleh Gerakan akar rumput (Grass Root), yang bertumpu pada lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Gerakan ini tersebar di seluruh Amerika Serikat secara terus menerus dan dibeberapa ruang. Baik dari lapangan, ruang pengadilan sampai ruang pemerintahan. Yang artinya, semua pribadi secara militan berjuang demi Revolusi Hijau ini. Pertanyaan untuk kita bangsa Indonesia, “Sudahkah seluruh ruang sadar akan revolusi hijau ini?” Sangat ironis memang ketika saya melihat berita disalahsatu media tv, ternyata didalam kawasan Gedung Wakil Rakyat Indonesia justru bebas merokok. Padahal mengisap rokok (dalam keadaan dibakar) juga menjadi bagian dalam mempercepat penghancuran bumi. Belum lagi pelepasan CO2 yang dihasilkan oleh emisi mesin indutri dan kendaraan bermotor. Dimana sifat dari CO2 adalah menyerap panas. Sehingga panas sinar matahari yang masuk ke dalam atmosfer bumi tidak bisa dilepaskan kembali ke luar angkasa karena kandungan CO2 yang terkandung didalam atmosfer bumi. Yang inilah sering kita sebut Efek Rumah Kaca, dan frasa ini sendiri digunakan oleh sebuah band Indonesia dan mereka menyerukan tentang pelestarian alam. Lebih ironis lagi, mengapa masih saja terjadi kerusuhan yang berbau SARA terjadi di bumi pertiwi Indonesia?

Pertanyaannya adalah ”Kenapa dalam tulisan saya ini langsung menyambung ke isu SARA? Apa hubungannya dengan perkembangan desain modern?” Kesimpulan yang saya dapatkan dari pembedahan saya tentang Sejarah Desain Modern (baik perkembangan sebelum masa modern maupun sesudah masa modern) adalah dari manapun asal kita atau suku kita, agama kita dan ras kita. Kehancuran bumi itu akan pasti terjadi. Untuk apa mempeributkan atau membuat kerusuhan dan kekerasan sebagai alat penenang ? Kalau itu menyangkut kebebasan manusia dalam menentukan pilihannya.

Contoh pada alinea pertama saya adalah contoh kecil, dengan menggunakan angkutan umum busway ketika di Jakarta, setidaknya saya sedikit mengurangi penambahan CO2 dari kendaraan pribadi. Memang konsekuensinya adalah kenyamanan pribadi berkurang. Jadi, kesimpulannya adalah mempelajari desain tidak hanya apa yang tampak (pada Desain Komunikasi Visual) tapi juga pola pikir akan dampak yang akan muncul. Dan selanjutnya adalah tindakan dari pola pikir itu.

Kedalaman Telaah Budaya

Tagline atau slogan tentang penyadaran akan budaya tradisional (budaya asli dari suatu tempat) dari yang sederhana dan dapat mudah dicerna oleh masyarakat umum sampai yang sulit dicerna, banyak digaungkan diberbagai media baik cetak (majalah, koran dan lainnya) maupun non cetak (TV, radio dan lainnya). Satu sisi saya sangat senang akan fenomena tersebut. Akan tetapi ada fenomena yang sangat kontras di kalangan akademisi atau intelektualitas, tempat saya mengajar. Satu pertanyaan yang saya lontarkan kepada mahasiswa ketika itu adalah, “Apakah kalian menyukai mata kuliah atau sejarah budaya Indonesia dan berapa nilai tertinggi pada ujian tengah semester?” Yang membuat saya tercengang adalah jawaban mereka yang mengatakan bahwa mereka tidak tertarik dengan sejarah terutama sejarah budaya Indonesia dan nilai mereka rata-rata dibawah standar. Saya mencoba mencari penyebabnya, apakah berasal dari faktor luar mahasiswa (sebagai salah satu contoh cara pengajaran) atau memang dari dalam diri mahasiswa.

Kalau kita berusaha membedah, begitu banyak karya hebat yang diwariskan nenek moyang orang Indonesia.

Sebagai contoh yang sampai sekarang masih kita bisa lihat adalah Candi Bentar (sering di jumpai di Bali atau Pura di luar Bali.) Candi Bentar adalah bangunan yang terdiri dari 2 bagian simetris yang saling berseberangan dan berlawanan yang mirip cermin (sebelah kiri dan kanan). Candi Bentar telah ada dari ratusan lalu, zaman dimana belum diketemukannya penggaris modern yang saat ini sering kita gunakan. Akan tetapi tingkat presisi kedua sisinya sangat tinggi. Zaman ratusan tahun lalu dimana orang hanya menggunakan sistem manual (ada yang menggunakan sistem bentang tangan – yang dikenal dengan hasta dan depa, sistem langkah kaki atau menggunakan sebatang benda seperti dahan pohon atau lainnya). Masih banyak kecerdasan nenek moyang lainnya yang diwariskan ke generasi yang baru. Akan tetapi, yang terjadi pada generasi saat ini adalah generasi yang ‘mendalami’ warisan nenek moyang hanya sebagai permukaan (kurang mendalami inti dari budaya tradisional). Satu sisi, ada beberapa pribadi yang mengatakan pada saya, “Itu sudah baik!” Satu sisi memang kalimat itu terdengar bijaksana, tapi satu sisi lain ‘mendukung’ pelunturan pencarian inti yang ada pada karya jenius nenek moyang kita.

Setelah data yang saya kumpulkan lalu saya analisa, maka hingga saya mencapai sebuah kesimpulan, apapun alasan mahasiswa dalam perkuliahan sejarah budaya Indonesia (baik dari faktor luar ataupun dalam), maka tidaklah mengherankan kalau para calon desainer professional Indonesia kurang dapat menelurkan karya eksploratif dari budaya Indonesia.

Tulisan ini tidak ingin menghancurkan mental generasi muda sekarang. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan dan mengajak untuk generasi sekarang ini untuk menggali lebih dalam lagi karya nenek moyang kita, Indonesia.

Maju generasi Indonesia, maju bangsa Indonesia.

Pertanggungjawaban Tone

Puluhan atau bahkan ratusan atau bisa saja lebih jenis tone yang telah diketemukan. Akan tetapi, fakta yang saya temukan di lapangan, hanya sedikit fotografer yang dapat menjelaskan ketika ditanyakan mengenai tone. Jawaban yang paling sering saya temukan ketika bertanya kepada para fotografer tentang makna tone adalah kesukaan. Karena si fotografer suka dengan salah satu tone, maka dibuatlah tone tersebut. Latar belakang ini memang tidak salah, karena tolak ukur penggunaan tone dalam dunia seni (khususnya desain dan fotografi fungsional) tidak ada salah atau benar, yang menjadi tolak ukur adalah cocok apa tidak suatu desain atau fotografi fungsional (termasuk kecocokan rasa dalam seni).

Mengedit atau ‘mengubah’ tone sebenarnya bukanlah hal yang mudah dan dangkal, karena proses itu melibatkan ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh ilmu yang paling sering digunakan dalam ‘membedah’ makna tone adalah psikologi (logos = ilmu, psyche = jiwa). Hal ini bisa terlihat pada orang umum (masyarakat diluar seniman) ketika mereka memberi tanggapan, ”Wow, foto ini dramatis ya?” atau contoh-contoh tanggapan lainnya. Itu sebabnya, tidak aneh rasanya kalau salah seorang teman baik saya sekarang mengambil S2 (Strata 2) didalam bidang art therapy. Terapi yang menggunakan bidang seni (terutama visual) dalam mendidik anak-anak generasi yang akan datang dan juga dapat digunakan dalam proses penyembuhan (penyakit, termasuk gangguan kejiwaan). Unsur yang digunakan adalah unsur dalam dunia seni (titik, garis, bidang, ruang, warna dan lain sebagainya).

Masih ada lagi ‘pisau bedah’ tone atau ilmu pengetahuan lainnya yang dapat membuat tone itu bermakna. Seperti ilmu geografi (ilmu bumi), semiotika, hermeunetik dan lain sebagainya. Jadi, seorang fotografer sudah seharusnya dapat mempertanggungjawabkan setiap penggunaan tone dari sudut ilmu pengetahuan.

Maju fotografi Indonesia.
Maju Indonesia.

Kekurangan ≠ Ketidakbergunaan

Saya masih ingat benar ketika seorang marketing sebuah villa memanggil saya untuk datang ke tempat kerjanya untuk melihat portfolio saya. Lalu ketika dia melihat-lihat, dia terhenti pada halaman portfolio makanan yang pernah saya tangani. Setelah itu dia melihat piring putih (terdapat makanan) yang terlihat oversaturasi/berlebihan cahaya. Dia memberi opini kepada saya, ”Foto ini oversaturasi!” (dengan nada yakin. Dan ‘tergambar’ dari ekspresi atau gesture tubuh serta nada bicaranya bahwa oversaturasi adalah hal yang negatif)

Saya teringat dahulu ketika saya masih pada masa awal belajar fotografi, dimana sering sekali teman-teman saya mengatakan bahwa oversaturasi itu adalah hal buruk dan harus dihindari. Akan tetapi, seiring bergulirnya waktu saya mencoba hal yang tidak biasa. Termasuk bermain dengan hal-hal yang ‘nyeleneh’. Tapi dari hasil ‘permainan’ itu, saya mendapat banyak pembelajaran. Salah satunya adalah anggapan yang ‘mematahkan’ ajaran yang saya dapatkan dahulu yakni oversaturasi adalah buruk adanya. Kini, saya berani dengan tegas mengatakan, ”Tidak setuju dengan hal itu!” Alasan saya adalah oversaturasi justru ‘memperkuat’ obyek utama (salah satunya adalah foto makanan). Dan satu hal lagi yang saya dapatkan dan yang harus diperhatikan adalah tahap penerapan. Tidak semua teknik oversaturasi ini baik untuk diterapkan pada semua media. Jadi, perlu kompleksitas berfikir yang tinggi dalam berkarya dengan menggunakan sebuah teknik.

Dan masih banyak teknik ‘negatif’ yang saya temukan dan saya gunakan dalam karya-karya saya lainnya.

Selamat berkarya dan maju seniman Indonesia.

Pendidikan Bisnis, atau Bisnis Pendidikan?

Keluar masuk di beberapa perguruan tinggi sebagai staff pengajar yang ada di Denpasar, membuat saya terbuka akan dunia pendidikan.

Pendidikan bisnis atau bisnis pendidikan. Itulah tema yang saya angkat dalam tusian kali ini. Pendidikan bisnis adalah bagaimana kita dilatih untuk menguasai sebuah bidang yang namanya bisnis. Atau seringkali lebih akrab ditelinga kita apabila kita masuk kedalam sebuah perguruan tinggi kita melihat fakultas dengan jurusan bisnis atau ada lembaga-lembaga informal yang membuat pendidikan singkat tentang bisnis. Itulah arti dari pendidikan bisnis. Akan tetapi yang ingin saya soroti sebenarnya adalah kalimat Bisnis Pendidikan. Ini artinya ada sebagian orang yang ‘terpanggil’ untuk membuka sebuah bisnis yang bergerak dalam dunia pendidikan. Seperti adanya lembaga pelatihan berbagai jurusan dari Sekolah dasar sampai lembaga pendidikan professional (sebagai contoh sekolah foto dan desain, sekolah perawatan dan lain sebagainya.)

Sebenarnya tidak ada salah akan kedua pilihan ini, kalau keduanya dijalankan dengan proses yang baik dan dengan kualitas yang baik. Sehingga mahasiswa dapat terbentuk dengan baik. Akan tetapi secara fakta ada beberapa penyimpangan-penyimpangan yang saya jumpai di lapangan, yang tidak mendukung akan kualitas yang baik mengenai Bisnis Pendidikan ini.

Perbandingan staf pengajar dengan Mahasiswa (khusus mata kuliah praktikal)

Ketika awal saya berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Denpasar. Saya diajar oleh 3 dosen dan 1 asisten dosen. Dan pada waktu angkatan itu, jumlah mahasiswa aktif hanya sekitar 20-30/kelas ditambah sekitar 5-10 mahasiswa yang mengulang pada satu mata kuliah tersebut. Memang saya merasakan betapa sulitnya lulus pada 1 mata kuliah praktek. Akan tetapi saya merasakan pembentukan yang luar biasa dari sistem tersebut. Idealnya adalah 1 (dosen) berbanding 20 (mahasiswa) – 1 : 20 adalah batas maksimum jumlah mahasiswa di dalam 1 kelas. Pertanyaan yang timbul adalah: mengapa? Karena atensi ideal (memberi perhatian yang ideal) seorang dosen/staf pengajar hanya ‘kuat’ dalam batas ambang tersebut. Apabila diluar jumlah tersebut, maka dapat disangsikan dosen tersebut dapat memiliki kualitas yang baik (didalam maupun diluar kelas.) Memang tidak dapat dipungkiri, ada karunia Sang Pencipta yang khusus yang diberikan kepada beberapa orang, yang bisa ‘meng-handle’ lebih dari ambang batas. Akan tetapi dalam faktanya, sangat jarang sekali saya temukan dosen/staf pengajar yang memiliki kemampuan tersebut.

Alasan lembaga pendidikan kini adalah dari sisi bisnis. Kalau menggunakan sistem tersebut, maka disebut pemborosan. Akan tetapi celoteh tersebut saya bantah dengan fakta perbandingan, lembaga pendidikan tersebut menarik harga untuk seorang masahasiswa yang sangat tinggi dengan ‘harga’ dosen. Hati miris yang saya jumpai. Bisnis tidaklah haram, atau jelek atau hina. Tapi ketika bisnis dapat menurunkan kualitas pendidikan, apakah masih ditolerir? Kalau boleh saya mengambil sebuah tagline sebuah iklan produk, “Buat anak kok coba-coba!” lalu saya sedikit plesetkan, ”Buat anak kok dikasih yang hancur!”

Selamatkan dunia pendidikan, Indonesia.

Jangan tunda lagi. Sekaranglah! Kalau mau lihat Indonesia maju di masa depan!